Minggu, 08 Juni 2014

Tokoh Filosof Muslim: Nasir al-Din Tusi (Materi Keduabelas)

A.      Kehidupannya
Khawajah Nasir al-Din abu Ja’far Muhammad ibn Muhammad ibn Hasan atau biasa dikenal dengan sebutan Tusi adalah seorang sarjana yang mahir pada bidang ahli matematika, astronomi, dan seorang politisi Syi’ah. Tusi lahir di Tus pada tahun 597 H/1201 M dan meninggal pada tahun 672 H/1274M. Tusi memulai karir sebagai ahli astronomi pada Nasir al-Din ‘abd al-Rahim, Gubernur dari benteng gunung Isma’iliah Quhistan. Kemudian pada tahun 654 H/1256 M, dia “menyerahkan” penguasa pembunuh terakhir Rukn al-Din Khurshah ke tangan Hulagu dan kemudian menjadi teman Hulagu sebagai penasihat tepercaya sampai ditaklukannya Baghdad pada tahun 657 H/1258 M.

B.       Observatorium Maraghah
Tusi mencapai kemasyhurannya dengan berhasil membujuk Hulagu untuk mendirikan sebuah Observatorium di Maraghah, Azarbaijan, pada tahun 657 H/1259 M. Kemudian Tusi juga menyusun tabel-tabel astronomisnya yang disebut Zij al-Ikhani yang dikenal ke seluruh Asia, bahkan sampai ke Cina. Observatorium ini juga penting dalam tiga hal, yaitu :
1.    Merupakan observatorium pertama yang banyak didukung.
2.    Tusi membuat observatorium Maraghah menjadi suatu “majlis yang hebat” yang terdiri atas orang-orang pandai dan terpelajar.
3.    Observatorium itu dihubungkan dengan sebuah perpustakaan besar tempat disimpannya khazanah pengetahuan yang tak terusakkan.

C.      Karya-karyanya
Karya-karya Tusi kebanyakan bersifat eklektis (memilih dari berbagai sumber). Sebagian karya-karyanya adalah sebagai berikut :
a.    Asas al-Iqtibas  (logika).
b.    Mantiq al-Tajrid  (logika).
c.    Ta’dil al-Mi’yar  (logika).
d.   Tajrid al-‘Aqa’id  (dogmatik).
e.    Qawa’id al-“Aqa’id  (dogmatik).
f.     Risaleh-i I’tiqadat  (dogmatik).
g.    Akhlaq-i Nasiri  (etika).
h.    Ausaf al-Asyaraf  (etika sufi).
i.      Risaleh dar Ithbat-i Wajib (metafisik).
j.      Itsbat-i Jauhar al-Mufariq (metafisik).

D.      Akhlaq-i Nasiri
Kebenarannya adalah penegasan dari Akhlaq-i Nasiri  yang ditulis oleh Tusi semata-mata merupakan terjemahan dari karya ibn Miskawaih yakni Tahdzib al-Akhlaq. Di samping itu, pada karya miskawaih tersebut hanya terbatas pada penggambaran disiplin moral. Displin yang menyangkut urusan rumah tangga dan politik menurut Tusi tidak terdapat pada karya tersebut. Padahal ini merupakan aspek yang sangan penting dari filsafat praktis dan tidak boleh diabaikan. Karena itulah Tusi menyusun Akhlaq-i Nasiri berdasarkan pola tersebut.

E.       Etika
Tusi membagi etika dalam beberapa konsep, yaitu:
1.    Konsep Kebahagiaan
Tusi beranggapan bahwa kebahagian utama adalah tujuan moral utama yang ditentukan oleh tempat dan kedudukan manusia di dalam evolusi kosmik dan diwujudkan lewat kesediaannya untuk disiplin dan patuh.
2.    Konsep Kejahatan
Tusi untuk pertama kalinya berpendapat bahwa penyimpangan bukan hanya dari segi jumlah tapi juga dari segi mutu dan untuk penyimpangan jenis baru ini ia menamankannya perbuatan tidak wajar. Penyakit moral itu bisa di sebabkan oleh keberlebihan, kekurangan, dan kewajaran akal.
3.    Konsep Kebodohan
Tusi menggolongkan penykit-penyakit fatal akan teoritis menjadi tiga hal, yaitu :
a.    Kebingungan
Kebingungan disebaabkan oleh ketidakmampuan jiwa untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah karena adanya bukti yang saling bertentangan dan argumentasi yang kacau. Tusi menyarankan agar orang yang mengalami kebingungan pertama-tama disadarkan bahwa penegasaan dan penyangkalan bersifat eksklusif.          .
b.    Kebodohan Sederhana
Kebodohan sederhana terdapat pada kekurangtahuan manusia akan sesuatu hal tanpa mengira bahwa dia sudah mengetahuinya. Akan menjadi sangat fatal kalau merasa puas dengan keadaan seperti itu. Hal ini bisa disembuhkan dengan jalan menunjukan fakta.
c.    Kebodohan Fatal
Kekurangtahuan manusia akan sesuatu hal dan dia merasa mengetahui hal itu. Menurut Tusi, penyakit ini adalah penyakit yang hampir tidak bisa di sembuhkan, tetapi dengan upaya keras matematika kemungkinan penyakit ini bisa di tekan kefatalannya menjadi kebodohan sederhana.
4.    Konsep Ketakutan
Tusi menganggap keketakutan sebagai bagian dari tiga penyakit kemarahan yang menonjol dari segi keberlebihan.
Meski bukan seorang sufi, Tusi mendorong agar tasawuf dibahas secara rasional. Ia menggolongkannya menjadi enam tahap, yaitu:
1.    Tahap pertama, tahap persiapan untuk perjalanan mistis yang mensyaratkan keyakinan kepada Tuhan dan senantiasa tetap pada keyakinan itu, keteguhan kemauan, kejujuran, perenungan akan Tuhan dan ketulusan hati.
2.    Tahap kedua, terdiri atas penolakan terhadap hubungan-hubungan duniawi yang menghalangi jalan mistis tersebut.
3.    Tahap Ketiga, pejalanan mistis di tandai dengan penyedirian, perenungan, ketakutan dan kesedihan, ketabahan, serta kebersyukuran kapada Tuhan.
4.    Tahap Keempat, mencakup pengalaman sang penjalan sebelum mencapai tujuannya.
5.    Tahap Kelima, berpasrah diri kepada tuhan, kepatuhan, ketundukan kepada kehendak tuhan.
6.    Tahap Keenam, proses peleburan diri ke dalam Tuhan mencapai puncak dan akhirnya hanyut dalam keesaan Tuhan.

F.       Ilmu Rumah Tangga
Tujuan ilmu rumah tangga ini adalah untuk mengembangkan sistem disiplin yang mendorong terciptanya kesejahteraan fisik, sosial, dan mental dalam keluarga. Tusi menganggap menabung harta sebagai tindakan yang bijaksana, asalkan hal itu tidak di dorong oleh sifat tamak dan kikir. Tusi juga beranggapan bahwa poligami tidak di kehendaki sebab hal itu bisa mendatangkan kekacauan dalam rumah tangga. Wanita pada dasarnya lemah pikiran dan secara psikologis cemburu terhadap pasangan lain suaminya dalam merebut cinta dan kekayaannya. Tusi memberikan kelonggaran poligami kepada para raja sebab mereka memerintahkan kepatuhan tanpa syarat, tapi sebagai langkah yang bijaksana mereka di sarankan agar menghindari hal itu. Tusi menutup pembahasan tentang ilmu rumah tangga ini dengan menekankan sekali lagi pemerhatian hak-hak orang tua, sebagaimana ditetapkan oleh Islam. Tusi berkesimpulan bahwa hak-hak ayah terutama bersifat mental, sedangkan hak-hak ibu bersifat fisik.

G.      Politik
Pelaksana keadilan merupakan fungsi utama pemerintahan. Menurut tusi, raja haruslah seorang yang adil, yang menjadi penengah kedua setelah hukum Tuhan. Raja seperti itu yang merupakan wakil Tuhan di bumi dan merupakan dokter bagi kekerasan dunia. Tugas pertamanya dan yang paling utama adalah mengukuhkan Negara dan menciptakan rasa cinta di antara kawan-kawannya, serta kebencian di antara musuh-musuhnya. Ia juga harus meningkatkan kesatuan antar sarjana, prajurit, petani, dan pedagang. Tusi menetapkan prinsip-prinsip etika perang sebagi petunjuk bagi penguasa. Musuh tidak boleh dianggap enteng serendah apapun dia. Tapi perang harus dihindari sedapat mungkin lewat muslihat-muslihat diplomatis sekalipun tanpa harus melakukan pengkianatan.

H.      Sumber Filsafat Praktis
Menurut Tusi, perintah-perintah Al-quran diberikan kepada manusia sebagai seorang individu, anggota keluarga, dan penguhuni kota atau Negara. Sedangkan pembagian itu sendiri menggambarkan pembagian filsafat praktis menjadi etika, rumah tangga, dan politik.

I.         Psikologi
Tusi beranggapan bahwa jiwa merupakan suatu realitas yang bisa terbukti sendiri dan oleh karena itu, jiwa tidak memerlukan lagi bukti lain. Lagi pula jiwa itu sendiri tidak bisa dibuktikan.
 Sifat Jiwa
Jiwa dapat mengontrol tubuh melalui otot-otot dan alat-alat perasa, tapi ia sendiri tidak dapat dirasa lewat alat-alat tubuh.
 Indera-indera Jiwa
Menurut para pendahulu, jiwa dibagi menjadi tiga, yaitu jiwa vegetatif, hewani, dan manusiawi. Kemudian al-Tusi menambahkan jiwa imajinatif di antara jiwa hewani dan jiwa manusiawi. Jiwa imajinatif itu sendiri berkenaan dengan persepsi-persepsi rasa di satu pihak saja dan dengan abstraksi-abstraksi rasional di pihak lainnya. Jika jiwa tersebut disatukan dengan jiwa hewani, ia bergantung kepadanya dan hancur bersamanya dan jika dihubungkan dengan jiwa manusia, ia terlepas dari anggota tubuh dan ikut bergembira atau bersedih bersama jiwa itu. Tusi mempercayai lokalisasi fungsi dalam otak. Akal sehat berada dalam ruang otak yang pertama, persepsi berada di awal bagian pertama ruang otak yang kedua, lalu imajinasi berada di bagian depan ruang otak yang ketiga, dan ingatan berada di bagian belakang otak.

J.        Metafisika
Menurut Tusi, metafisika terdiri atas dua bagian, yaitu :
1.    Ilmu Ketuhanan.
2.    Filsafat Pertama.
Pengetahuan tentang Tuhan, akal dan jiwa termasuk ke dalam ilmu ketuhanan. Sedangkan pengetahuan mengenai alam semesta dan hal-hal yang berhubungan dengan alam semesta termasuk ke dalam filsafat pertama.

K.      Kenabian
Tusi menetapkan tentang perlunya kenabian dan kepemimpinan spiritual. Akibat dari pertentangan minat serta kebebasan individu mengakibatkan tercerai-berainya kehidupan sosial, dalam hal ini diperlukan aturan suci dari Tuhan untuk mengatur urusan-urusan manusia. Tuhan yang di luar jangkauan indera mengutus para nabi sebagai penuntun.

L.       Baik dan Buruk
Menurut Tusi, segala yang baik datang dari Tuhan, sedangkan yang buruk muncul sebagai kebetulan dalam perjalanan yang baik itu. Di dalam dunia manusia, keburukan terkadang terjadi karena kesalahan penilaian atau penyalahgunaan karunia Tuhan yang berupa kehendak bebas. Tuhan selalu mengkhendaki kebaikan yang menyeluruh akan tetapi banyak hal-hal yang menutupi pikiran kita dan mengaburkan pandangan mental kita. Akhirnya, keburukan muncul dari kebodohan, atau akibat dari cacat fisik, atau kekurangan terhadap sesuatu yang bisa mendatangkan kebaikan.

M.     Logika

Tusi menganggap bahwa logika sebagai suatu ilmu dan suatu alat ilmu. Sebagai ilmu, logika bertujuan untuk memahami makna-makna dan sifat dari makna-makna yang dipahami tersebut. Sebagai alat, logika menjadi kunci untuk memahami berbagai ilmu.