A.
Masa Hidup
Abu al-Walid Muhammad ibn Ahmad ibn
Muhammad ibn Rusyd atau biasa disebut Ibn Rusyd saja lahir di Cordova, Spanyol.
Keluarga ibn Rusyd sangat dikenal karena mahir dalam ilmu fiqh. Sedangkan ayah
dan kekeknya sempat menjabat menjadi Kepala Pengadilan di Andalusia. Itulah yang
memberi kesempatan kepada ibn Rusyd dalam meraih kedudukan tinggi di studi
keIslaman. Ibn Rusyd mempelajari Al-Quran dan penafsirannya, Hadits, ilmu Fiqh,
bahasa dan sastra Arab dari seorang ahli secara lisan. Ia juga merevisi buku
Malikiah, al-muwatta, yang ia pelajari kemudian menghafalkannya bersama
ayahnya, Abu Qasim. Selain itu ia juga mempelajari matematika, fisika,
astronomi, logika, filsafat dan ilmu pengobatan. Ibn Rusyd hidup di dalam
kondisi politik yang sedang berkecamuk, pada masa pemerintahan Almurafiah yang
digulingkan oleh golongan Almuhadiah di Marrakusy tahun 543 H/1148 M.
Pada saat Abu Yaqub menjadi
amir, Ibn Rusyd menuliskan ulasan-ulasan
tentang buku-buku Aristoteles dan dikenal oleh masyarakat Eropa pada abad
pertengahan sebagai “Juru Ulas”. Ibn Rusyd menulis 3 macam ulasan, yaitu ulasan
besar, ulasan menengah, dan ulasan
kecil. Ulasan besarnya disebut tafsir dan mengikuti pola tafsir Al-Qur’an. Ibn
Rusyd mengutip satu paragraf tulisan Aristoteles dan memberikan penafsiran
beserta ulasannya. Ulasan besarnya yang hingga kini masih ada, yaitu Metaphysica
yang disunting oleh Bouyges (1357 H/1938 M – 1371 H/1951 M). Ulasan kecilnya
disebut talkhis, dalam bahasa Arab berarti rangkuman. Secara
keseluruhan, nilai ulasan-ulasan dari ibn Rusyd bersifat historis, kecuali
ulasan-ulasan kecilnya yang mengungkapkan sampai batas-batas tertentu
pemikirannya sendiri. Aada dua alasan mengapa ibn Ruysd lebih dikenal dan
dihargai oleh masyarakat di Eropa Tengah ketimbang di Timur, yaitu :
• Tulisannya yang jumlahnya banyak diterjemahkan ke dalam bahasa
latin dan diedarkan serta dilestarikan. Sedangkan teks aslinya yang berbahasa
Arab dibakar atau dilarang terbit karena mengandung anti filsafat dan filosof.
• Pada zaman Reinassance, Eropa lebih mudah menerima filsafat dan
metode ilmiah sebagaimana yang dianut oleh ibn Rusyd, dibandingkan di Timur di
mana ilmu dan filsafat mulai dikurbankan demi berkembangnya gerakan-gerakan
mistis dan keagamaan.
Pertikaian antara kaum filosof
dengan kaum agamawan untuk mendapat kekuasaan tak pernah reda sejak abad ke-3
H/ke-9 M. Sebagai akibat dari pertikaian itu, ibn Rusyd diusir dari tanah
kelahirannya pada tahun 593 H/1196 M dan tulisan-tulisannya dibakar di depan
umum.
B.
Filsafat dan Agama
Ibn Rusyd membuka risalahnya dengan
mengajukan beberapa pertanyaan tentang “apakah filsafat itu sah, dilarang,
dianjurkan, atau diharuskan dalam hukum Islam (Syari’ah)”. Jawabannya adalah
sejak dini memang filsafat diwajibkan atau dianjurkan dalam agama (terutama
Islam). Sebab fungsi filsafat itu sendiri hanyalah spekulasi atas yang maujud
dan memikirkannya selama membawa kita kepada pengetahuan akan Sang Pencipta.
Al-Quran telah memerintahkan manusia untuk berpikir (i’tibar) dan
terbukti dalam beberapa ayat yang ada di dalamnya. Jadi, Al-Quran memang memerintahkan
manusia untuk mempelajari filsafat, karena manusia harus membuat spekulasi atas
alam raya ini dan merenungkan bermacam-macam kemaujudan. Sasaran agama secara
filosofis, yaitu agama berfungsi sebagai pencapaian teori yang benar dan
perbuatan yang benar (al-‘ilm al-haq wal-‘amal al-haqq). Sejauh ini agama sejalan
dengan filsafat, tujuan dan tindakan filsafat sama dengan tujuan dan tindakan
agama. Hanya tinggal menemukan keselarasan keduanya dalam metode dan
permasalahan materi saja. Menurut ibn Rusyd, agama itu didasarkan atas tiga hal
yang harus diyakini oleh muslim, yaitu:
1.
Eksistensi
Tuhan.
2.
Kenabian.
3.
Kebangkitan.
Ketiga prinsip inilah yang merupakan
pokok permasalahan agama. Jadi, filsafat merupakan saudara kembar dari agama dan
keduanya merupakan sahabat yang pada dasarnya saling mencintai.
C.
Jalan Menuju Tuhan
Dalam bukunya yang berjudul al-Kasyf
‘an Manahij al-adilla, ibn Rusyd menemukan jalan
menuju Tuhan, yaitu metode-metode yang ada dalam Al-Quran untuk mencapai
kepercayaan akan eksistensi atau keberadaan Tuhan dan pengetahuan akan
sifat-sifat Tuhan. Buku ini ditulis dalam bentuk teologis sehingga ibn Rusyd
meninjau berbagai metode dari mahzab Islam yang digolongkan menjadi lima
golongan besar, yaitu :
a.
Golongan
Hasyawiyah, menurut golongan ini jalan menuju Tuhan yaitu dengan cara
mendengarkan lewat pengajaran secara lisan al-sam dan bukan
melalui nalar.
b.
Golongan
Asy’ariah, golongan ini percaya bahwa jalan menuju Tuhan itu melalui akal.
Mereka memaparkan beberapa dasar-dasar pijakan mereka, seperti dunia itu tidak kekal, benda-benda itu terdiri
atas atom-atom, atom-atom itu tercipta, perantara adanya dunia itu tidak
bersifat sementara dan juga tidak kekal.
c.
Orang-orang
Sufi, golongan ini mengikuti cara mistis. Mereka berpendapat bahwa pengetahuan
tentang Tuhan masuk ke dalam jiwa jauh dari atas sana apabila kita sudah meninggalkan
semua keinginan duniawi kita sendiri.
Namun dalam pembahasannya, ibn Rusyd
lebih sering mengemukakan golongan Asy’ariah saja dan ia pun tidak pernah
membahas tentang golongan Batiniyah. Kemudian ia juga memberikan sedikit
penjelasan tentang golongan Mu’tazillah. Ibn Rusyd menyebutkan bahwa dalam
golongan ini sebagai pembuktian tentang adanya Tuhan dan pembuktian tentang
penciptaan ada 3, yaitu pertama bersifat teologis, kedua bersifat
kosmologis, dan ketiga adalah keduanya dimulai dari alam raya sebagai
suatu keseluruhan. Sementara pembuktian adanya Tuhan bertumpu pada 2 prinsip :
1.
Semua
kemaujudan yang ada sesuai dengan kemaujudan manusia.
2.
Kesesuaian
ini dikarenakan oleh perantara yang berkehendak berbuat begitu, sebab
kesesuaian tak terjadi dengan sendirinya.
Menurut ibn Rusyd, Tuhan itu
disifati dengan tujuh sifat utama, yaitu tahu, hidup, berkuasa, berkehendak, mendengar,
melihat, dan berfirman. Sedangkan tindakan-tindakan Tuhan bisa diringkaskan
menjadi lima tindakan utama, yaitu mencipta, mengutus nabi-nabi, menetapkan
takdir, membangkitkan kembali, dan mengadili.
D.
Jalan Menuju Pengetahuan
Salah satu masalah besar yang
dibahas oleh Filsafat Muslim adalah jalan menuju pengetahuan. Karena
keterkaitannya dengan kemaujudan-kemaujudan yang lebih tinggi, yaitu “akal
perantara” yang dengan akal tersebut manusia berhubungan satu sama lain. Menurut
ibn Rusyd sendiri akal dan ruh dibedakan dengan hati-hati dalam pemikirannya
tentang proses pengetahuan. Prinsip-prinsip muslim untuk memahami substansi ruh
(soul) dibagi menjadi lima, yaitu :
1.
Segala
periada yang fana terdiri atas materi dan bentuk yang masing-masing dengan
sendirinya bukanlah satu wujud, meski melalui gabungan keduanya wujud itu
maujud.
2.
Materi
utama tidak mempunyai eksistensi aktual dan hanya merupakan suatu kemampuan
untuk menerima bentuk-bentuk.
3.
Wujud-wujud
sederhana pertama yang merupakan perwujudan materi utama itu merupakan empat
unsur, yaitu api, air, udara dan bumi.
4.
Unsur-unsur
tersebut masuk ke dalam susunan wujud-wujud lain lewat percampuran. Penyebab utama
terjadinya percampuran itu adalah panas alam.
5.
Benda-benda
organik dihasilkan dari individu-individu hidup yang sejenis dengan benda-benda
organik itu lewat panas alam.
Menurut ibn Rusyd, bentuk dari
materi tidak pernah dapat dipisahkan dari materi karena bentuk fisik bisa
maujud hanya dalam materi itu sendiri. Menurut tindakannya, ia membagi jiwa menjadi
lima, yaitu jiwa nutritif, sensitif, imajinatif, kognitif, dan apetitif. Cara
hewan mendapatkan pengetahuan adalah melalui perasaan dan imajinasi, sedangkan cara manusia mendapatkan pengetahuan selain
dari dua cara tersebut juga dilengkapi akal. Pengetahuan yang benar, yaitu
pengetahuan mengenai hal-hal yang universal. Pengetahuan binatang hanya sebatas
perasaan dan imajinatif, sedangkan pengetahuan manusia bersifat universal.
Perasaan dan imajinatif yang dimiliki binatang hanya untuk kelestarian,
keamanan, menjaga diri, dan mendapatkan makanan untuk mereka, sehingga binatang
harus mendekati dan menjauhi hal-hal yang bisa dirasakan. Karena manusia mempunyai
unsur yang lebih tinggi, yaitu akal maka manusia mendapatkan gambaran lewat
pikiran dan nalar. Bentuk-bentuk yang diserap oleh binatang kalau diserap oleh
manusia maka menjadi gambaran-gambaran universal. Mustahil apabila pengetahuan
Tuhan sama dengan pengetahuan manusia, sebab pengetahuan manusia adalah akibat
dari segala yang maujud, sedangkan pengetahuan Tuhan merupakan sebab dari
adanya segala sesuatu itu sendiri.
E.
Jalan Menuju Tuhan
Dalam masyarakat manusia, agama
lebih mendasar dan filsafat merupakan pencarian akan kebenaran. Manusia
merupakan hewan yang bersifat metafisik, sedangkan ilmu merupakan suatu wujud
pengetahuan yang sistematis dan terumuskan yang bertumpu pada pengamatan dan
pengklasifikasian fakta-fakta. Tapi jalan menuju ilmu lebih mendasar daripada
kebenaran-kebenaran ilmiah yang terperoleh, sebab melalui metode ilmiah kita
dapat mencapai realitas-realitas ilmiah. Menurut Ibn Rusyd, kekekalan benda
membuat kita dapat mencapai hakikat sesuatu benda, definisinya, dan memberinya
nama. Mustahil Tuhan memiliki kebiasaan. Kebiasaan hal-hal yang ada benar-benar
merupakan sifat mereka, karena kebiasaan hanya ada pada yang hidup. Jalan
menuju ilmu dimulai dengan keimanan yang merupakan dasar ketentuan.
F.
Jalan Menuju Wujud
Ada dua jenis metafisik yang berbeda yang diterima oleh bangsa
Arab, yaitu metafisik tentang wujud dan metafisik tentang Yang Maha Esa. Pertama
dari Aristoteles dan kedua dari Plotinus. Sebagai pengikut setia
Aristoteles, ibn Rusyd mendefinisikan metafisik sebagai pengetahuan tentang
wujud. Metafisik adalah bagian dari ilmu-ilmu teoritis. Metafisik adalah ilmu
yang mempelajari keterhubungan hal-hal yang ada mengenai tatanan hierarkis,
sebab mereka sampai mencapai sebab utama. Karena itu, pengetahuan tentang
wujud, berupa penyelidikan akan sebab dan prinsipnya. Kemaujudan lahiriah
merupakan dasar bagi pengetahuan kita. Jika suatu wujud ada di dalam pikiran
kita tetapi tidak memiliki keberadaan sejati di luar, maka ia bukanlah suatu
wujud, melainkan hanya sesuatu kemaujudan seperti sebuah gagasan yang tidak
masuk akal. Kriteria wujud, yaitu eksistensinya yang nyata dalam bentuk potensi
maupun tindakan. Ada empat syarat yang harus dimiliki benda yang akan bermaujud,
yaitu :
1.
Subyek
yang paling dekat.
2.
Sifatnya.
3.
Sebab
pendorongnya.
4.
Ketiadaan
sebab-sebab yang mencegahnya .
Benda-benda
fisik itu terdiri atas materi dan bentuk, maka potensi selalu diakibatkan oleh
adanya materi, sedang aktualitas selalu diakibatkan oleh adanya bentuk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar