Minggu, 08 Juni 2014

Tokoh Filosof Muslim: Ibn Rusyd (Materi Kesebelas)

A.      Masa Hidup
Abu al-Walid Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Rusyd atau biasa disebut Ibn Rusyd saja lahir di Cordova, Spanyol. Keluarga ibn Rusyd sangat dikenal karena mahir dalam ilmu fiqh. Sedangkan ayah dan kekeknya sempat menjabat menjadi Kepala Pengadilan di Andalusia. Itulah yang memberi kesempatan kepada ibn Rusyd dalam meraih kedudukan tinggi di studi keIslaman. Ibn Rusyd mempelajari Al-Quran dan penafsirannya, Hadits, ilmu Fiqh, bahasa dan sastra Arab dari seorang ahli secara lisan. Ia juga merevisi buku Malikiah, al-muwatta, yang ia pelajari kemudian menghafalkannya bersama ayahnya, Abu Qasim. Selain itu ia juga mempelajari matematika, fisika, astronomi, logika, filsafat dan ilmu pengobatan. Ibn Rusyd hidup di dalam kondisi politik yang sedang berkecamuk, pada masa pemerintahan Almurafiah yang digulingkan oleh golongan Almuhadiah di Marrakusy tahun 543 H/1148 M.
Pada saat Abu Yaqub menjadi amir,  Ibn Rusyd menuliskan ulasan-ulasan tentang buku-buku Aristoteles dan dikenal oleh masyarakat Eropa pada abad pertengahan sebagai “Juru Ulas”. Ibn Rusyd menulis 3 macam ulasan, yaitu ulasan besar,  ulasan menengah, dan ulasan kecil. Ulasan besarnya disebut tafsir dan mengikuti pola tafsir Al-Qur’an. Ibn Rusyd mengutip satu paragraf tulisan Aristoteles dan memberikan penafsiran beserta ulasannya. Ulasan besarnya yang hingga kini masih ada, yaitu Metaphysica yang disunting oleh Bouyges (1357 H/1938 M – 1371 H/1951 M). Ulasan kecilnya disebut talkhis, dalam bahasa Arab berarti rangkuman. Secara keseluruhan, nilai ulasan-ulasan dari ibn Rusyd bersifat historis, kecuali ulasan-ulasan kecilnya yang mengungkapkan sampai batas-batas tertentu pemikirannya sendiri. Aada dua alasan mengapa ibn Ruysd lebih dikenal dan dihargai oleh masyarakat di Eropa Tengah ketimbang di Timur, yaitu :
       Tulisannya yang jumlahnya banyak diterjemahkan ke dalam bahasa latin dan diedarkan serta dilestarikan. Sedangkan teks aslinya yang berbahasa Arab dibakar atau dilarang terbit karena mengandung anti filsafat dan filosof.
       Pada zaman Reinassance, Eropa lebih mudah menerima filsafat dan metode ilmiah sebagaimana yang dianut oleh ibn Rusyd, dibandingkan di Timur di mana ilmu dan filsafat mulai dikurbankan demi berkembangnya gerakan-gerakan mistis dan keagamaan.
Pertikaian antara kaum filosof dengan kaum agamawan untuk mendapat kekuasaan tak pernah reda sejak abad ke-3 H/ke-9 M. Sebagai akibat dari pertikaian itu, ibn Rusyd diusir dari tanah kelahirannya pada tahun 593 H/1196 M dan tulisan-tulisannya dibakar di depan umum.

B.       Filsafat dan Agama
Ibn Rusyd membuka risalahnya dengan mengajukan beberapa pertanyaan tentang “apakah filsafat itu sah, dilarang, dianjurkan, atau diharuskan dalam hukum Islam (Syari’ah)”. Jawabannya adalah sejak dini memang filsafat diwajibkan atau dianjurkan dalam agama (terutama Islam). Sebab fungsi filsafat itu sendiri hanyalah spekulasi atas yang maujud dan memikirkannya selama membawa kita kepada pengetahuan akan Sang Pencipta. Al-Quran telah memerintahkan manusia untuk berpikir (i’tibar) dan terbukti dalam beberapa ayat yang ada di dalamnya. Jadi, Al-Quran memang memerintahkan manusia untuk mempelajari filsafat, karena manusia harus membuat spekulasi atas alam raya ini dan merenungkan bermacam-macam kemaujudan. Sasaran agama secara filosofis, yaitu agama berfungsi sebagai pencapaian teori yang benar dan perbuatan yang benar (al-‘ilm al-haq wal-‘amal al-haqq). Sejauh ini agama sejalan dengan filsafat, tujuan dan tindakan filsafat sama dengan tujuan dan tindakan agama. Hanya tinggal menemukan keselarasan keduanya dalam metode dan permasalahan materi saja. Menurut ibn Rusyd, agama itu didasarkan atas tiga hal yang harus diyakini oleh muslim, yaitu:
1.    Eksistensi Tuhan.
2.    Kenabian.
3.    Kebangkitan.
Ketiga prinsip inilah yang merupakan pokok permasalahan agama. Jadi, filsafat merupakan saudara kembar dari agama dan keduanya merupakan sahabat yang pada dasarnya saling mencintai.

C.      Jalan Menuju Tuhan
Dalam bukunya yang berjudul al-Kasyf ‘an Manahij al-adilla, ibn Rusyd menemukan jalan menuju Tuhan, yaitu metode-metode yang ada dalam Al-Quran untuk mencapai kepercayaan akan eksistensi atau keberadaan Tuhan dan pengetahuan akan sifat-sifat Tuhan. Buku ini ditulis dalam bentuk teologis sehingga ibn Rusyd meninjau berbagai metode dari mahzab Islam yang digolongkan menjadi lima golongan besar, yaitu :
a.    Golongan Hasyawiyah, menurut golongan ini jalan menuju Tuhan yaitu dengan cara mendengarkan lewat pengajaran secara lisan al-sam dan bukan melalui nalar.
b.    Golongan Asy’ariah, golongan ini percaya bahwa jalan menuju Tuhan itu melalui akal. Mereka memaparkan beberapa dasar-dasar pijakan mereka, seperti  dunia itu tidak kekal, benda-benda itu terdiri atas atom-atom, atom-atom itu tercipta, perantara adanya dunia itu tidak bersifat sementara dan juga tidak kekal.
c.    Orang-orang Sufi, golongan ini mengikuti cara mistis. Mereka berpendapat bahwa pengetahuan tentang Tuhan masuk ke dalam jiwa jauh dari atas sana apabila kita sudah meninggalkan semua keinginan duniawi kita sendiri.
Namun dalam pembahasannya, ibn Rusyd lebih sering mengemukakan golongan Asy’ariah saja dan ia pun tidak pernah membahas tentang golongan Batiniyah. Kemudian ia juga memberikan sedikit penjelasan tentang golongan Mu’tazillah. Ibn Rusyd menyebutkan bahwa dalam golongan ini sebagai pembuktian tentang adanya Tuhan dan pembuktian tentang penciptaan ada 3, yaitu pertama bersifat teologis, kedua bersifat kosmologis, dan ketiga adalah keduanya dimulai dari alam raya sebagai suatu keseluruhan. Sementara pembuktian adanya Tuhan bertumpu pada 2 prinsip :
1.    Semua kemaujudan yang ada sesuai dengan kemaujudan manusia.
2.    Kesesuaian ini dikarenakan oleh perantara yang berkehendak berbuat begitu, sebab kesesuaian tak terjadi dengan sendirinya.
Menurut ibn Rusyd, Tuhan itu disifati dengan tujuh sifat utama, yaitu tahu, hidup, berkuasa, berkehendak, mendengar, melihat, dan berfirman. Sedangkan tindakan-tindakan Tuhan bisa diringkaskan menjadi lima tindakan utama, yaitu mencipta, mengutus nabi-nabi, menetapkan takdir, membangkitkan kembali, dan mengadili.

D.      Jalan Menuju Pengetahuan
Salah satu masalah besar yang dibahas oleh Filsafat Muslim adalah jalan menuju pengetahuan. Karena keterkaitannya dengan kemaujudan-kemaujudan yang lebih tinggi, yaitu “akal perantara” yang dengan akal tersebut manusia berhubungan satu sama lain. Menurut ibn Rusyd sendiri akal dan ruh dibedakan dengan hati-hati dalam pemikirannya tentang proses pengetahuan. Prinsip-prinsip muslim untuk memahami substansi ruh (soul) dibagi menjadi lima, yaitu :
1.    Segala periada yang fana terdiri atas materi dan bentuk yang masing-masing dengan sendirinya bukanlah satu wujud, meski melalui gabungan keduanya wujud itu maujud.
2.    Materi utama tidak mempunyai eksistensi aktual dan hanya merupakan suatu kemampuan untuk menerima bentuk-bentuk.
3.    Wujud-wujud sederhana pertama yang merupakan perwujudan materi utama itu merupakan empat unsur, yaitu api, air, udara dan bumi.
4.    Unsur-unsur tersebut masuk ke dalam susunan wujud-wujud lain lewat percampuran. Penyebab utama terjadinya percampuran itu adalah panas alam.
5.    Benda-benda organik dihasilkan dari individu-individu hidup yang sejenis dengan benda-benda organik itu lewat panas alam.
Menurut ibn Rusyd, bentuk dari materi tidak pernah dapat dipisahkan dari materi karena bentuk fisik bisa maujud hanya dalam materi itu sendiri. Menurut tindakannya, ia membagi jiwa menjadi lima, yaitu jiwa nutritif, sensitif, imajinatif, kognitif, dan apetitif. Cara hewan mendapatkan pengetahuan adalah melalui perasaan dan imajinasi, sedangkan  cara manusia mendapatkan pengetahuan selain dari dua cara tersebut juga dilengkapi akal. Pengetahuan yang benar, yaitu pengetahuan mengenai hal-hal yang universal. Pengetahuan binatang hanya sebatas perasaan dan imajinatif, sedangkan pengetahuan manusia bersifat universal. Perasaan dan imajinatif yang dimiliki binatang hanya untuk kelestarian, keamanan, menjaga diri, dan mendapatkan makanan untuk mereka, sehingga binatang harus mendekati dan menjauhi hal-hal yang bisa dirasakan. Karena manusia mempunyai unsur yang lebih tinggi, yaitu akal maka manusia mendapatkan gambaran lewat pikiran dan nalar. Bentuk-bentuk yang diserap oleh binatang kalau diserap oleh manusia maka menjadi gambaran-gambaran universal. Mustahil apabila pengetahuan Tuhan sama dengan pengetahuan manusia, sebab pengetahuan manusia adalah akibat dari segala yang maujud, sedangkan pengetahuan Tuhan merupakan sebab dari adanya segala sesuatu itu sendiri.

E.       Jalan Menuju Tuhan
Dalam masyarakat manusia, agama lebih mendasar dan filsafat merupakan pencarian akan kebenaran. Manusia merupakan hewan yang bersifat metafisik, sedangkan ilmu merupakan suatu wujud pengetahuan yang sistematis dan terumuskan yang bertumpu pada pengamatan dan pengklasifikasian fakta-fakta. Tapi jalan menuju ilmu lebih mendasar daripada kebenaran-kebenaran ilmiah yang terperoleh, sebab melalui metode ilmiah kita dapat mencapai realitas-realitas ilmiah. Menurut Ibn Rusyd, kekekalan benda membuat kita dapat mencapai hakikat sesuatu benda, definisinya, dan memberinya nama. Mustahil Tuhan memiliki kebiasaan. Kebiasaan hal-hal yang ada benar-benar merupakan sifat mereka, karena kebiasaan hanya ada pada yang hidup. Jalan menuju ilmu dimulai dengan keimanan yang merupakan dasar ketentuan.

F.       Jalan Menuju Wujud
       Ada dua jenis metafisik yang berbeda yang diterima oleh bangsa Arab, yaitu metafisik tentang wujud dan metafisik tentang Yang Maha Esa. Pertama dari Aristoteles dan kedua dari Plotinus. Sebagai pengikut setia Aristoteles, ibn Rusyd mendefinisikan metafisik sebagai pengetahuan tentang wujud. Metafisik adalah bagian dari ilmu-ilmu teoritis. Metafisik adalah ilmu yang mempelajari keterhubungan hal-hal yang ada mengenai tatanan hierarkis, sebab mereka sampai mencapai sebab utama. Karena itu, pengetahuan tentang wujud, berupa penyelidikan akan sebab dan prinsipnya. Kemaujudan lahiriah merupakan dasar bagi pengetahuan kita. Jika suatu wujud ada di dalam pikiran kita tetapi tidak memiliki keberadaan sejati di luar, maka ia bukanlah suatu wujud, melainkan hanya sesuatu kemaujudan seperti sebuah gagasan yang tidak masuk akal. Kriteria wujud, yaitu eksistensinya yang nyata dalam bentuk potensi maupun tindakan. Ada empat syarat yang harus dimiliki benda yang akan bermaujud, yaitu :
1.    Subyek yang paling dekat.
2.    Sifatnya.
3.    Sebab pendorongnya.                    
4.    Ketiadaan sebab-sebab yang mencegahnya .
Benda-benda fisik itu terdiri atas materi dan bentuk, maka potensi selalu diakibatkan oleh adanya materi, sedang aktualitas selalu diakibatkan oleh adanya bentuk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar