A.
Model
Proses Komunikasi Massa
a.
Model
Transmisi
Pandangan
dalam model ini dikaitkan dengan pengiriman atau pemberian informasi kepada
pihak lain. Inti dari gagasannya adalah transmisi isyarat (signal) atau pesan
dalam waktu tertentu dengan tujuan tercapainya kontrol. Menurut model ini,
komunikasi massa adalah proses pengaturan sendiri yang diarahkan oleh
kepentingan dan permintaan pemirsa yang hanya dapat diketahui oleh pemilihan
dan respons dari pemirsa tersebut atas apa yang ditawarkan oleh media.
Contohnya
adalah dalam media cetak khususnya surat kabar memiliki banyak varian berita yang disajikan sesuai dengan
keinginan dan kepentingan dari audince dalam mendapatkan informasi.
b.
Model
Ekspresi (Ritual)
Model
ritual ini dikaitkan dengan beberapa istilah, yaitu kebersamaan, partisipasi,
asosiasi, dan persahabatan atau titik pandang yang sama. Inti dari model ini
tidak menekankan pada penyebaran informasi dari sudut pandang ruang, melainkan
pada masalah pembinaan masyarakat dalam kurun waktu tertentu. Model ini juga
tidak menekankan pada upaya penyampaian informasi tetapi pada pencerminan
kesamaan pandangan.
Contohnya
adalah dalam acara “belajar
Indonesia” di mana dalam acara ini menggambarkan keanekaragaman budaya dan cara
berkomunikasi setiap daerah di Indonesia berbeda-beda.
c.
Model
Perhatian
Model
perhatian ini adalah model yang paling sesuai dengan tujuan utama media seperti
yang ditentukan oleh media itu sendiri (menarik hati khalayak) dan paling cocok
dengan pandangan khalayak umum menyangkut dengan pentingnya pemakaian media
(membebaskan diri, melibatkan diri, menghibur, dll).
☺
Model Komunikasi Massa
1. Model
Jarum Hypodermik (Hypodermic Needle Model)
Menurut
model ini, media massa memiliki dampak yang kuat, terarah, segera, dan
langsung. Media juga ampuh dalam memasukan ide pada benak khalayak. Peristiwa model
hypodermik diibaratkan sebagai jarum suntik besar yang memiliki kapasitas
sebagai perangsang yang kuat, bahkan secara spontan, otomatis, dan reflektif.
2. One Step Flow Model
Menurut
model ini, saluran media massa berkomunikasi langsung dengan massa tanpa
berlalunya suatu pesan kepada orang lain. Namun, pesan itu tidak mencapai semua
komunikan dan tidak menimbulkan efek yang sama pada setiap komunikan. Dalam model
ini, media tidak memiliki kekuatan yang hebat. Penampilan, penerimaan, dan
penahanan dalam ingatan selektif mempengaruhi suatu pesan.
Sumber
→ Khalayak
3. Two Step Flow
Model
Menurut
model ini, kunci utamanya adalah menaruh perhatian kepada peranan media massa
dan komunikasi antarpribadi. Melihat massa sebagai perorangan yang berinteraksi
dan memekankan proses dari opinion leader
ke penduduk yang kurang giat. Model komunikasi ini berlangsung dalam dua tahap,
yaitu :
- Tahap
1 : Dari media massa kepada orang-orang tertentu di antara pemuka pendapat yang
bertindak selaku gate keepers. Dari sini
pesan-pesan media massa disampaikan kepada anggota-anggota pemuka pendapat yang
lain sebagai tahap kedua.
- Tahap
2 : Sehingga pesan-pesan media akhirnya mencapai seluruh penduduk.
Sumber →
Komunikasi → Pesan → Media Massa → Opinion Leader → Komunikan
4. Multi Step Flow
Model
Model
ini didasrakan kepada fungsi penyebaran yang berurutan terjadi pada kenyataan
situasi komunikasi. Tujuan dari model ini adalah menggunakan banyak saluran
untuk memperteguh. Ada asumsi yang mengatakan
bahwa model ini merupakan model yang paling cocok karena menggabungkan beberapa
hal dalam model komunikasi satu tahap dan dua tahap. Pada model pertama
khalayak bersifat pasif, tapi ternyata khlayak aktif mencari informasi yang dia
butuhkan dan menyampaikan kepada yang lain. Proses sosial ini menjadi salah
satu yang melatarbelakangi lahirnya model komunikasi ini.
Sumber → Media Massa → Komunikan → Komunikan → Komunikan
☺ Karakteristik
Isi Media
Berikut
ada beberapa karakteristik isi media, yaitu :
1. Cepat
(aktual atau memperhatikan ketepatan waktu).
2. Nyata
(berupa informasi mengenai sebuah fakta).
3. Penting
(menyangkut kepentingan orang banyak).
4. Menarik
(mengundang orang untuk membaca apa yang ditulis).
☺ Media
Value
Ada
beberapa media value, yaitu :
1. Consequencies
(suatu fakta yang dapat membawa akibat bagi khalayak).
2. Human
Interest (menarik dari sudut kepentingan kemanusiaan).
3. Prominence
(melibatkan tokoh terkemuka yang menjadi figur atau elite opinion).
4. Proximity
(fakta atau informasi memiliki kedekatan dengan tempat tinggal pembaca).
5. Timelines
(memiliki unsur kebaruan yang menyebabkan informasi tersebut aktual).
☺ Karakteristik
Industri Media
Ada
tiga karakteristik industri media, yaitu :
1. Customer
Requirments (merujuk pada harapan konsumen tentang produk media yang mencakup
aspek kualitas, diversitas atau perbedaan, dan ketersediaan).
2. Competitive
Environment (lingkungan pesaing yang di hadapi perusahaan).
3. Social
Expectations (tingkat harapan masyarakat terhadap keberadaan industri media).
☺
Pengaruh dalam Model Hirarki
Pengaruh dalam model
ini akan dijabarkan dari yang terkecil ke yang terbesar, sebagai berikut :
1.
Level pengaruh Individu Pekerja Media
Pemberitaan suatu media dan pembentukan konten
media tidak terlepas dari faktor individu seorang pencari berita atau jurnalis.
Arah pemberitaan dan unsur-unsur yang diberitakan tidak dapat dilepaskan dari
seorang jurnalis. Faktor individual dari seorang pekerja media sangat
mempengaruhi pemberitaan sebuah media, ini dikarenakan seorang jurnalis sebagai
pencari berita dan dapat mengkonstruk pemberitaan sebuah media.
2. Level
Rutinitas Media
Pada level ini mempelajari tentang efek pada
pemberitaan dilihat dari sisi rutinitas media. Rutinitas media adalah kebiasaan
sebuah media dalam pengemasan dan sebuah berita. Media rutin terbentuk oleh
tiga unsur yang saling berkaitan yaitu sumber berita ( suppliers ), organisasi media ( processor ), dan audiens ( consumers ). Ketiga unsur ini saling berhubungan
dan berkaitan dan pada akhirnya membentuk rutinitas media yang membentuk
pemberitaan pada sebuah media.
3. Level
Pengaruh Organisasi
Berkaitan dengan level sebelumnya pada Teori Hirarki
pengaruh yaitu level individu dan level media rutin, level organisasi lebih
berpengaruh dibanding kedua level sebelumnya. Ini dikarenakan kebijakan
terbesar dipegang oleh pemilik media melalui editor pada sebuah media. Jadi,
penentu kebijakan pada sebuah media dalam menentukan sebuah pemberitaan tetap
dipegang oleh pemilik media. Ketika tekanan datang untuk mendorong, pekerja
secara individu dan rutinitas mereka harus tunduk pada organisasi yang lebih
besar dan tujuannya.
4. Level
Pengaruh Luar Organisasi Media
Level keempat dalam Teori Hirarki pengaruh media
adalah level pengaruh dari luar organisasi media atau yang biasa disebut
extra media level. Extra media level sendiri adalah pengaruh-pengaruh pada isi
media yang berasal dari luar organisasi media itu sendiri. Pengaruh-pengaruh
dari media itu berasal dari sumber berita, pengiklan dan penonton, kontrol dari
pemerintah, pangsa pasar, dan teknologi.
5. Level
Pengaruh Ideologi
Level yang terakhir pada teori hirarki pengaruh
Pamela J. Shoemaker dan Stephen D. Reese adalah level pengaruh ideologi pada
konten media. Pada level ini akan membahas ideologi yang diartikan sebagai
kerangka berpikir tertentu yang dipakai oleh individu untuk melihat realitas
dan bagaimana mereka menghadapinya. Berbeda dengan level pengaruh media
sebelumnya yang tampak konkret, level ideologi ini abstrak. Level ini
berhubungan dengan konsepsi atau posisi seseorang dalam menafsirkan realitas
dalam sebuah media.
☺ Konsep
Massa dalam Komunikasi Massa
|
PEMBEDA
|
KELOMPOK
|
PUBLIK
|
KERUMUNAN
|
MASSA
|
|
Tingkat
Instruksi
|
Tinggi dalam
Wilayah terbatas
|
Sedang, walaupun para anggota tersebar
|
Tinggi
|
Rendah
|
|
Tujuan atau
Objek
Perhatian
|
Tujuan bersama,
Identitas,
kontak
|
Pandangan
atau
masalah untuk diskusi dan penentuan pilihan
|
Kejadian
yang sedang berlangsung
|
Objek
perhatian yang dikelola
|
|
Kontrol/
Organisasi
|
Tinggi/tetapi informal, internal
|
Sedang, Formal, dan informal
|
Kejadian yang sedang berlangsung
|
Eksternal
dan
manipulatif
|
|
Kadar
Kesadaran
|
Tinggi
|
Bervariasi
sedang sampai tinggi
|
Rendah
|
Rendah
|
B.
Teori Agenda Setting
a.
Perspektif Agenda Setting
Teori agenda setting
pertama kali diperkenalkan oleh Maxwell McCombs dan Donald L. Show dalam
tulisan mereka yang berjudul “The Agenda Setting Function of Mass Media” yang
diterbitkan tahun 1972 dalam Public
Opinion Quarterly. Mereka berpendapat bahwa jika media memberikan tekanan
pada suatu peristiwa, maka media itu akan mempengaruhi khalayak untuk
menganggapnya penting. Dengan teknik pemilihan dan penonjolan pada suatu
peristiwa, media memberikan petunjuk tentang yang mana persoalan yang lebih penting.
Jadi bisa disimpulkan bahwa teori agenda setting adalah apa yang dianggap
penting oleh media akan dianggap penting pula oleh masyarakat dan begitu pula
sebaliknya.
b.
Agenda
Terdapat tiga agenda dalam agenda setting, yaitu :
1. Agenda Media
- Visibility (jumlah dan tingkat menonjolnya
berita).
- Audience
Salience (relevansi isi berita dengan kebutuhan khalayak)
- Valence (menyenangkan atau tidak menyenangkan
cara pemberitaan bagi suatu peristiwa).
2. Agenda Khalayak
- Familiarity (derajat kesadaran khalayak akan
topik tertentu).
- Personal Salience (relevansi kepentingan dengan
ciri pribadi).
- Favorability (pertimbangan senang atau tidak akan
topik berita).
3. Agenda Kebijakan
- Support (kegiatan menyenangkan bagi posisi suatu
berita tertentu).
- Likelihood of Action (kemungkinan melaksanakan
apa yang diibaratkan).
- Freedom of Action (nilai kegiatan yang mungkin
dilakukan).
c.
Efek Agenda Setting
Efek agenda setiing dibagi menjadi dua, yaitu :
1. Efek langsung
- Ada atau tidaknya sebuah isu di khalayak.
- Mana yang penting.
- Dirangking oleh responden.
2. Efek lanjutan
- Persepsi.
- Tindakan.