Minggu, 20 April 2014

Tokoh Filosof Muslim: Muhammad Ibn Zakaria Al-Razi (Materi Kelima)


A.      Masa Hidupnya
Abu Bakr Muhammad ibn Zakaria ibn Yahya al-Razi atau yang biasa disebut dengan al-Razi merupakan salah satu tokoh filosof muslim yang lahir di Rayy. Ia lahir pada tanggal satu sya’ban tahun 251 H/865 M dan wafat pada 5 sya’ban 313 H/27 Oktober 925. Di tempat kelahirannya, al-Razi terkenal sebagai dokter yang murah hati dan sayang kepada pasiennya. Maka dari itu ketika Mansur ibn Ishaq ibn Ahmad ibn Asad menjadi Gubernur Rayy dari tahun 290-296 H/902-908 M, ia ditunjuk untuk memimpin rumah sakit di Rayy. Ia selalu menggunakan waktunya luangnya untuk menulis dan belajar yang membuat penglihatannya berangsur-angsur melemah dan akhirnya menjadi buta.
Semasa hidupnya, al-Razi dikenal memiliki guru dan lawan. Al-Razi belajar ilmu kedokteran kepada ‘Ali ibn Rabban al-Thabari dan ia belajar filsafat kepada al-Balkhi. Ada beberapa lawan-lawan al-Razi mengenai teorinya, yaitu :
1.    Abu al-Qasim al-Balkhi, ia berbeda dengan al-Razi mengenai waktu.
2.    Syuhaid ibn al-Husain al-Balkhi, ia berbeda dengan al-Razi mengenai teori kesenangan.
3.    Abu Hatim al-Razi adalah lawan paling penting karena banyak pendapat-pendapat al-Razi mengenai kenabian dan agama yang di tulis dalam buku A’lam al-Nubuwwah.
4.    Ibn Tammar, ia memilki perbedaan dengan al-Razi mengenai teori materi dan atmosfir bawah tanah.
5.    Ahmad ibn al-Thayyib al-Sarakhsi, beliau adalah senior al-Razi yang bertentangan mengenai rasa pahit.

B.       Karya-karyanya
Karya-karya al-Razi yang ditemukan pada saat ini berjumlah 148 buah, yaitu terdiri atas 118 buku, 19 surat, 4 buku, 6 surat, dan satu maqalah. Karena banyak buku-buku yang sudah ditulis olehnya, maka ia mengelompokkan buku-buku tersebut sebagai berikut :
a.    Tentang ilmu kedokteran.
b.    Ilmu fisika.
c.    Logika.
d.   Matematika dan astronomi.
e.    Komentar, ringkasan, dan ikhtisar.
f.     Filsafat dan ilmu pengetahuan hipotesa.
g.    Metafisika.
h.    Teologi.
i.      Alkimia.
j.      Atheisme.
k.    Campuran.
Ia juga banyak menulis buku-buku filsafat, diantaranya Al- Tibb al-Ruhani, Al-Shirat, Amarat Iqbal al-Daulah, Kitab al-Ladzdzah, Kitab al-Ilm al-Ilahi, Maqalah fi ma ba’d al-Tabi’ah, dan Al-Syukuk ‘ala Proclus.

C.      Filsafatnya
1.        Metode
Al-Razi merupakan seorang rasional murni, yang ia percayai hanyalah akal saja. Bagi al-Razi, tiada tempat bagi wahyu atau intuisi mistis dan hanya akal logislah yang merupakan kriteria tunggal pengetahuan dan perilaku. Di bidang kedokteran, studi klinis yang dilakukannya telah menghasilkan metode yang kuat tentang penemuan yang berpijak pada observasi dan eksperimen.
2.        Metafisika
Metafisika menurut al-Razi dijelaskan melalui risalah kecil yang berjudul ‘Maqalah li Abi Bakr Muhammad Ibn Zakariya al-Razi fi ma ba’d al-Tabi’ah’. Dalam risalah kecil tersebut tampaknya pengarang ingin menolak semua ajaran yang menyebutkan bahwa alam merupakan prinsip gerak dan penciptaan dengan menyebutkan kontradiksi-kontradiksi ajaran-ajaran tersebut. Al-Razi membagi kekekalan menjadi 5, yaitu :
1.    Tuhan (bukan ruh, mengetahui segala sesuatu).
2.    Ruh (diantara benda-benda yang ada hidup dan membutuhkan ruh).
3.    Materi (materi itu kekal, dibuktikan dengan 2 bukti. Pertama, penciptaan adalah bukti. Pasti ada yang menciptakan, karena yang menciptakan kekal maka yang diciptakan juga kekal. Kedua, penciptaan ketidakmungkinan dari ketidakadaan).
4.    Ruang (ruang tempat materi, karena materi kekal maka ruang juga kekal).
5.    Waktu (dibagi menjadi 2, yaitu waktu mutlak dan waktu terbatas).

D.      Teologi
Al-Razi merupakan seorang yang bertuhan tetapi ia tidak mempercayai wahyu dan kenabian. Al-Razi membantah kenabian dengan 3 alasan, yaitu :
1.    Akal sudah memadai untuk membedakan antara yang baik dan yang jahat, yang berguna dan tidak berguna. Untuk apa ada nabi jika akal saja sudah dapat membedakan mana yang baik dan yang jahat, serta yang berguna dan tidak berguna.
2.    Tiada pembenaran bagi pengistimewaan beberapa orang untuk membimbing semua orang. Bagi al-Razi semua orang itu sama.
3.    Para nabi saling bertentangan. Antara nabi satu dengan nabi yang lainnya berbeda pengajaran.


E.      Filsafat Moral
Filsafat moral al-Razi terdapat hanya dalam karyanya yang berjudul ‘al Tibbal-Ruhani dan al-Shirat al-Falsfiyyah’. Ia berpendapat bahwa seorang filosof harus moderat, tidak terlalu menyendiri, tidak terlalu memperturutkan hawa nafsu. Menurut al-Razi ada dua batas dalam hidup ini, batas tertinggi (batas yang tidak boleh dilampau oleh para filosof, diperoleh hanya dengan melakukan ketakadilan dan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan akal) dan batas terendah (memakan sesuatu yang tidak membahayakan atau menyebabkan sakit dan memakai pakaian yang cukup untuk melindungi kulitnya, dan sebagaianya).

Senin, 14 April 2014

Tokoh Filosof Muslim: Al-Kindi (Materi Keempat)

A.      Masa Hidup
Abu Yusuf Ya’qub ibn Ishaq ibn Sabbah ibn Imran ibn Ismail al-Ash’ats bin Qais Al-kindi atau yang biasa disebut Al-Kindi merupakan filosof muslim pertama. Ia lahir pada 185 H/801 M dan wafat pada 260 H/873 M. Al-Kindi merupakan muslim Arab pertama yang mempelajari ilmu pengetahuan dan filsafat, maka dari itu ia disebut sebagai “Ahli-Filsafat Arab”. Selain bisa berbahasa Arab, ia juga mahir berbahasa Yunani dan Syria. Ayahnya yang bernama Ishaq al-Sabbah, merupakan gubernur Kufah (pusat kebudayaan Islam yang cenderung kepada studi-studi aqliah) selama kekhalifahan Abbasiyah al-Mahdi dan al-Rasyid. Kufah merupakan tempat di mana Al-Kindi menghapal al-Quran, mempelajari tata bahasa arab, kesusastraan dan ilmu hitung. Ia juga mempelajari Fiqh dan kalam.
Dalam perkembangannya, al-Kindi lebih tertarik kepada ilmu pengetahuan dan filsafat. Menurut Al-Qifti (penulis biografi al-Kindi), al-Kindi menerjemahkan banyak buku filsafat, menjelaskan hal-hal yang pelik, dan menyaripatikan teori-teori canggih filsafat. Namun, kemahsyuran al-Kindi tentang pengetahuannya berbanding lurus dengan kemahsyurannya akan kekikirannya. Al-Kindi menjadi seorang yang sangat sombong. Keburukannya ini digambarkan dalam karikatur al-jahiz dalam bukunya Kitab al-Bukhala.

B.       Karya-karyanya
Al Kindi telah menulis banyak karya dalam berbagai disiplin ilmu, dari metafisika, etika, logika dan psikologi, hingga ilmu pengobatan, farmakologi, matematika, astrologi dan optik, juga meliputi topik praktis seperti parfum, pedang, zoologi, kaca, meteorologi dan gempa bumi. Karya-karya al-Kindi berjumlah 270 buah yang kebanyakan berupa risalah-risalah pendek. Beberapa karya ilmiahnya telah diterjemahkan oleh Gerard dari Cremona ke dalam bahasa Latin, dan pemikirannya itu sangat mempengaruhi pemikiran Eropa pada abad pertengahan.

C.      Filsafatnya
Menurut al-Kindi, filsafat hendaknya diterima sebagai bagian dari kebudayaan Islam. Baginya, filsafat adalah pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu dalam batas-batas kemampuan manusia, karena tujuan para filsosof dalam berteori ialah mencapai kebenaran, dan dalam berpraktek, ialah menyesuaikan dengan kebenarannya. Teori dan praktek merupakan awal kebajikan. Masing-masing dibagi menjadi fisika, matematika dan teologi. Praktek dibagi menjadi bimbingan diri, keluarga dan masyarakat. Menurut Ibn Nabatah dari Al-Kindi, ilmu-ilmu filsafat terdiri atas tiga hal, yaitu:
1.    Pengajaran (ta’lim), yaitu matematika yang bersifat mengantar.
2.    Ilmu alam, yang bersifat terakhir.
3.    Ilmu agama yang bersifat paling tinggi.

D.      Keselarasan Filsafat dengan Agama
Al-Kindi mengarahkan filsafat muslim ke arah kesesuaian antara filsafat dan agama. Keselarasan antara filsafat dan agama didasarkan atas 3 alasan, yaitu :
1.    Ilmu agama merupakan bagian dari filsafat.
2.    Wahyu yang diturunkan kepada nabi dan kebenaran filsafat saling bersesuaian.
3.    Menuntut ilmu, secara logika, diperintahkan dalam agama.
Awalnya al-Kindi menolak secara keras bahwa filsafat dan agama itu tidak selaras. Namun al-Kindi telah membuka pintu bagi penafsiran filosofis terhadap al-Qur’an, ia mengkaji ulang dan akhirnya memberikan dua pandangan yang berbeda, yaitu :
1.    Mengikuti jalur ahli logika dan memilsafatkan agama.
2.    Memandang agama sebagai ilmu ilahiah dan menempatkannya di atas filsafat.

E.       Tuhan, Ketakterhinggaan, Ruh dan Akal
Al-Kindi menyifati tuhan dengan istilah-istilah baru, yaitu tuhan adalah yang benar, ia tinggi dan dapat disifati hanya dengan sebutan-sebutan negatif (ia bukan materi, tak berbentuk, tak berjumlah, tak berkualitas, tak berhbungan), ia juga tak dapat disifati dengan ciri-ciri yang ada (ia tak berjenis, tak berbagi dan tak berkejadian, ia abadi).
Benda-benda fisik terdiri atas materi dan bentuk dan bergerak didalam ruang dan waktu. Waktu bukanlah gerak, melainkan bilangan pengukur gerak. Segala hal-hal yang berkaitan erat dengan fisik, ruang, dan waktu adalah terbatas. Karena setiap benda yang terdiri atas materi dan bentuk yang terbatas ruang dan bergerak didalam waktu itu terbatas, maka tidak kekal. Hanya Allah yang kekal.
Ruh merupakan suatu wujud sederhana dan zatnya terpancar dari sang pencipta. Tiga bagian ruh ialah nalar, keberangan dan hasrat. Menurut al-Kindi, akal yaitu :
1.    Yang selalu bertindak.
2.    Yang secara potensial berada didalam ruh.
3.    Yang telah berubah di dalam ruh dari daya menjadi aktual.
4.    Yang kita sebut akal yang kedua.
Dan menurut al-Kindi, yang bersifat alam semesta adalah apabila akal bersatu dengan ruh.