Minggu, 08 Juni 2014

Tokoh Filosof Muslim: Nasir al-Din Tusi (Materi Keduabelas)

A.      Kehidupannya
Khawajah Nasir al-Din abu Ja’far Muhammad ibn Muhammad ibn Hasan atau biasa dikenal dengan sebutan Tusi adalah seorang sarjana yang mahir pada bidang ahli matematika, astronomi, dan seorang politisi Syi’ah. Tusi lahir di Tus pada tahun 597 H/1201 M dan meninggal pada tahun 672 H/1274M. Tusi memulai karir sebagai ahli astronomi pada Nasir al-Din ‘abd al-Rahim, Gubernur dari benteng gunung Isma’iliah Quhistan. Kemudian pada tahun 654 H/1256 M, dia “menyerahkan” penguasa pembunuh terakhir Rukn al-Din Khurshah ke tangan Hulagu dan kemudian menjadi teman Hulagu sebagai penasihat tepercaya sampai ditaklukannya Baghdad pada tahun 657 H/1258 M.

B.       Observatorium Maraghah
Tusi mencapai kemasyhurannya dengan berhasil membujuk Hulagu untuk mendirikan sebuah Observatorium di Maraghah, Azarbaijan, pada tahun 657 H/1259 M. Kemudian Tusi juga menyusun tabel-tabel astronomisnya yang disebut Zij al-Ikhani yang dikenal ke seluruh Asia, bahkan sampai ke Cina. Observatorium ini juga penting dalam tiga hal, yaitu :
1.    Merupakan observatorium pertama yang banyak didukung.
2.    Tusi membuat observatorium Maraghah menjadi suatu “majlis yang hebat” yang terdiri atas orang-orang pandai dan terpelajar.
3.    Observatorium itu dihubungkan dengan sebuah perpustakaan besar tempat disimpannya khazanah pengetahuan yang tak terusakkan.

C.      Karya-karyanya
Karya-karya Tusi kebanyakan bersifat eklektis (memilih dari berbagai sumber). Sebagian karya-karyanya adalah sebagai berikut :
a.    Asas al-Iqtibas  (logika).
b.    Mantiq al-Tajrid  (logika).
c.    Ta’dil al-Mi’yar  (logika).
d.   Tajrid al-‘Aqa’id  (dogmatik).
e.    Qawa’id al-“Aqa’id  (dogmatik).
f.     Risaleh-i I’tiqadat  (dogmatik).
g.    Akhlaq-i Nasiri  (etika).
h.    Ausaf al-Asyaraf  (etika sufi).
i.      Risaleh dar Ithbat-i Wajib (metafisik).
j.      Itsbat-i Jauhar al-Mufariq (metafisik).

D.      Akhlaq-i Nasiri
Kebenarannya adalah penegasan dari Akhlaq-i Nasiri  yang ditulis oleh Tusi semata-mata merupakan terjemahan dari karya ibn Miskawaih yakni Tahdzib al-Akhlaq. Di samping itu, pada karya miskawaih tersebut hanya terbatas pada penggambaran disiplin moral. Displin yang menyangkut urusan rumah tangga dan politik menurut Tusi tidak terdapat pada karya tersebut. Padahal ini merupakan aspek yang sangan penting dari filsafat praktis dan tidak boleh diabaikan. Karena itulah Tusi menyusun Akhlaq-i Nasiri berdasarkan pola tersebut.

E.       Etika
Tusi membagi etika dalam beberapa konsep, yaitu:
1.    Konsep Kebahagiaan
Tusi beranggapan bahwa kebahagian utama adalah tujuan moral utama yang ditentukan oleh tempat dan kedudukan manusia di dalam evolusi kosmik dan diwujudkan lewat kesediaannya untuk disiplin dan patuh.
2.    Konsep Kejahatan
Tusi untuk pertama kalinya berpendapat bahwa penyimpangan bukan hanya dari segi jumlah tapi juga dari segi mutu dan untuk penyimpangan jenis baru ini ia menamankannya perbuatan tidak wajar. Penyakit moral itu bisa di sebabkan oleh keberlebihan, kekurangan, dan kewajaran akal.
3.    Konsep Kebodohan
Tusi menggolongkan penykit-penyakit fatal akan teoritis menjadi tiga hal, yaitu :
a.    Kebingungan
Kebingungan disebaabkan oleh ketidakmampuan jiwa untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah karena adanya bukti yang saling bertentangan dan argumentasi yang kacau. Tusi menyarankan agar orang yang mengalami kebingungan pertama-tama disadarkan bahwa penegasaan dan penyangkalan bersifat eksklusif.          .
b.    Kebodohan Sederhana
Kebodohan sederhana terdapat pada kekurangtahuan manusia akan sesuatu hal tanpa mengira bahwa dia sudah mengetahuinya. Akan menjadi sangat fatal kalau merasa puas dengan keadaan seperti itu. Hal ini bisa disembuhkan dengan jalan menunjukan fakta.
c.    Kebodohan Fatal
Kekurangtahuan manusia akan sesuatu hal dan dia merasa mengetahui hal itu. Menurut Tusi, penyakit ini adalah penyakit yang hampir tidak bisa di sembuhkan, tetapi dengan upaya keras matematika kemungkinan penyakit ini bisa di tekan kefatalannya menjadi kebodohan sederhana.
4.    Konsep Ketakutan
Tusi menganggap keketakutan sebagai bagian dari tiga penyakit kemarahan yang menonjol dari segi keberlebihan.
Meski bukan seorang sufi, Tusi mendorong agar tasawuf dibahas secara rasional. Ia menggolongkannya menjadi enam tahap, yaitu:
1.    Tahap pertama, tahap persiapan untuk perjalanan mistis yang mensyaratkan keyakinan kepada Tuhan dan senantiasa tetap pada keyakinan itu, keteguhan kemauan, kejujuran, perenungan akan Tuhan dan ketulusan hati.
2.    Tahap kedua, terdiri atas penolakan terhadap hubungan-hubungan duniawi yang menghalangi jalan mistis tersebut.
3.    Tahap Ketiga, pejalanan mistis di tandai dengan penyedirian, perenungan, ketakutan dan kesedihan, ketabahan, serta kebersyukuran kapada Tuhan.
4.    Tahap Keempat, mencakup pengalaman sang penjalan sebelum mencapai tujuannya.
5.    Tahap Kelima, berpasrah diri kepada tuhan, kepatuhan, ketundukan kepada kehendak tuhan.
6.    Tahap Keenam, proses peleburan diri ke dalam Tuhan mencapai puncak dan akhirnya hanyut dalam keesaan Tuhan.

F.       Ilmu Rumah Tangga
Tujuan ilmu rumah tangga ini adalah untuk mengembangkan sistem disiplin yang mendorong terciptanya kesejahteraan fisik, sosial, dan mental dalam keluarga. Tusi menganggap menabung harta sebagai tindakan yang bijaksana, asalkan hal itu tidak di dorong oleh sifat tamak dan kikir. Tusi juga beranggapan bahwa poligami tidak di kehendaki sebab hal itu bisa mendatangkan kekacauan dalam rumah tangga. Wanita pada dasarnya lemah pikiran dan secara psikologis cemburu terhadap pasangan lain suaminya dalam merebut cinta dan kekayaannya. Tusi memberikan kelonggaran poligami kepada para raja sebab mereka memerintahkan kepatuhan tanpa syarat, tapi sebagai langkah yang bijaksana mereka di sarankan agar menghindari hal itu. Tusi menutup pembahasan tentang ilmu rumah tangga ini dengan menekankan sekali lagi pemerhatian hak-hak orang tua, sebagaimana ditetapkan oleh Islam. Tusi berkesimpulan bahwa hak-hak ayah terutama bersifat mental, sedangkan hak-hak ibu bersifat fisik.

G.      Politik
Pelaksana keadilan merupakan fungsi utama pemerintahan. Menurut tusi, raja haruslah seorang yang adil, yang menjadi penengah kedua setelah hukum Tuhan. Raja seperti itu yang merupakan wakil Tuhan di bumi dan merupakan dokter bagi kekerasan dunia. Tugas pertamanya dan yang paling utama adalah mengukuhkan Negara dan menciptakan rasa cinta di antara kawan-kawannya, serta kebencian di antara musuh-musuhnya. Ia juga harus meningkatkan kesatuan antar sarjana, prajurit, petani, dan pedagang. Tusi menetapkan prinsip-prinsip etika perang sebagi petunjuk bagi penguasa. Musuh tidak boleh dianggap enteng serendah apapun dia. Tapi perang harus dihindari sedapat mungkin lewat muslihat-muslihat diplomatis sekalipun tanpa harus melakukan pengkianatan.

H.      Sumber Filsafat Praktis
Menurut Tusi, perintah-perintah Al-quran diberikan kepada manusia sebagai seorang individu, anggota keluarga, dan penguhuni kota atau Negara. Sedangkan pembagian itu sendiri menggambarkan pembagian filsafat praktis menjadi etika, rumah tangga, dan politik.

I.         Psikologi
Tusi beranggapan bahwa jiwa merupakan suatu realitas yang bisa terbukti sendiri dan oleh karena itu, jiwa tidak memerlukan lagi bukti lain. Lagi pula jiwa itu sendiri tidak bisa dibuktikan.
 Sifat Jiwa
Jiwa dapat mengontrol tubuh melalui otot-otot dan alat-alat perasa, tapi ia sendiri tidak dapat dirasa lewat alat-alat tubuh.
 Indera-indera Jiwa
Menurut para pendahulu, jiwa dibagi menjadi tiga, yaitu jiwa vegetatif, hewani, dan manusiawi. Kemudian al-Tusi menambahkan jiwa imajinatif di antara jiwa hewani dan jiwa manusiawi. Jiwa imajinatif itu sendiri berkenaan dengan persepsi-persepsi rasa di satu pihak saja dan dengan abstraksi-abstraksi rasional di pihak lainnya. Jika jiwa tersebut disatukan dengan jiwa hewani, ia bergantung kepadanya dan hancur bersamanya dan jika dihubungkan dengan jiwa manusia, ia terlepas dari anggota tubuh dan ikut bergembira atau bersedih bersama jiwa itu. Tusi mempercayai lokalisasi fungsi dalam otak. Akal sehat berada dalam ruang otak yang pertama, persepsi berada di awal bagian pertama ruang otak yang kedua, lalu imajinasi berada di bagian depan ruang otak yang ketiga, dan ingatan berada di bagian belakang otak.

J.        Metafisika
Menurut Tusi, metafisika terdiri atas dua bagian, yaitu :
1.    Ilmu Ketuhanan.
2.    Filsafat Pertama.
Pengetahuan tentang Tuhan, akal dan jiwa termasuk ke dalam ilmu ketuhanan. Sedangkan pengetahuan mengenai alam semesta dan hal-hal yang berhubungan dengan alam semesta termasuk ke dalam filsafat pertama.

K.      Kenabian
Tusi menetapkan tentang perlunya kenabian dan kepemimpinan spiritual. Akibat dari pertentangan minat serta kebebasan individu mengakibatkan tercerai-berainya kehidupan sosial, dalam hal ini diperlukan aturan suci dari Tuhan untuk mengatur urusan-urusan manusia. Tuhan yang di luar jangkauan indera mengutus para nabi sebagai penuntun.

L.       Baik dan Buruk
Menurut Tusi, segala yang baik datang dari Tuhan, sedangkan yang buruk muncul sebagai kebetulan dalam perjalanan yang baik itu. Di dalam dunia manusia, keburukan terkadang terjadi karena kesalahan penilaian atau penyalahgunaan karunia Tuhan yang berupa kehendak bebas. Tuhan selalu mengkhendaki kebaikan yang menyeluruh akan tetapi banyak hal-hal yang menutupi pikiran kita dan mengaburkan pandangan mental kita. Akhirnya, keburukan muncul dari kebodohan, atau akibat dari cacat fisik, atau kekurangan terhadap sesuatu yang bisa mendatangkan kebaikan.

M.     Logika

Tusi menganggap bahwa logika sebagai suatu ilmu dan suatu alat ilmu. Sebagai ilmu, logika bertujuan untuk memahami makna-makna dan sifat dari makna-makna yang dipahami tersebut. Sebagai alat, logika menjadi kunci untuk memahami berbagai ilmu.
 

Tokoh Filosof Muslim: Ibn Rusyd (Materi Kesebelas)

A.      Masa Hidup
Abu al-Walid Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Rusyd atau biasa disebut Ibn Rusyd saja lahir di Cordova, Spanyol. Keluarga ibn Rusyd sangat dikenal karena mahir dalam ilmu fiqh. Sedangkan ayah dan kekeknya sempat menjabat menjadi Kepala Pengadilan di Andalusia. Itulah yang memberi kesempatan kepada ibn Rusyd dalam meraih kedudukan tinggi di studi keIslaman. Ibn Rusyd mempelajari Al-Quran dan penafsirannya, Hadits, ilmu Fiqh, bahasa dan sastra Arab dari seorang ahli secara lisan. Ia juga merevisi buku Malikiah, al-muwatta, yang ia pelajari kemudian menghafalkannya bersama ayahnya, Abu Qasim. Selain itu ia juga mempelajari matematika, fisika, astronomi, logika, filsafat dan ilmu pengobatan. Ibn Rusyd hidup di dalam kondisi politik yang sedang berkecamuk, pada masa pemerintahan Almurafiah yang digulingkan oleh golongan Almuhadiah di Marrakusy tahun 543 H/1148 M.
Pada saat Abu Yaqub menjadi amir,  Ibn Rusyd menuliskan ulasan-ulasan tentang buku-buku Aristoteles dan dikenal oleh masyarakat Eropa pada abad pertengahan sebagai “Juru Ulas”. Ibn Rusyd menulis 3 macam ulasan, yaitu ulasan besar,  ulasan menengah, dan ulasan kecil. Ulasan besarnya disebut tafsir dan mengikuti pola tafsir Al-Qur’an. Ibn Rusyd mengutip satu paragraf tulisan Aristoteles dan memberikan penafsiran beserta ulasannya. Ulasan besarnya yang hingga kini masih ada, yaitu Metaphysica yang disunting oleh Bouyges (1357 H/1938 M – 1371 H/1951 M). Ulasan kecilnya disebut talkhis, dalam bahasa Arab berarti rangkuman. Secara keseluruhan, nilai ulasan-ulasan dari ibn Rusyd bersifat historis, kecuali ulasan-ulasan kecilnya yang mengungkapkan sampai batas-batas tertentu pemikirannya sendiri. Aada dua alasan mengapa ibn Ruysd lebih dikenal dan dihargai oleh masyarakat di Eropa Tengah ketimbang di Timur, yaitu :
       Tulisannya yang jumlahnya banyak diterjemahkan ke dalam bahasa latin dan diedarkan serta dilestarikan. Sedangkan teks aslinya yang berbahasa Arab dibakar atau dilarang terbit karena mengandung anti filsafat dan filosof.
       Pada zaman Reinassance, Eropa lebih mudah menerima filsafat dan metode ilmiah sebagaimana yang dianut oleh ibn Rusyd, dibandingkan di Timur di mana ilmu dan filsafat mulai dikurbankan demi berkembangnya gerakan-gerakan mistis dan keagamaan.
Pertikaian antara kaum filosof dengan kaum agamawan untuk mendapat kekuasaan tak pernah reda sejak abad ke-3 H/ke-9 M. Sebagai akibat dari pertikaian itu, ibn Rusyd diusir dari tanah kelahirannya pada tahun 593 H/1196 M dan tulisan-tulisannya dibakar di depan umum.

B.       Filsafat dan Agama
Ibn Rusyd membuka risalahnya dengan mengajukan beberapa pertanyaan tentang “apakah filsafat itu sah, dilarang, dianjurkan, atau diharuskan dalam hukum Islam (Syari’ah)”. Jawabannya adalah sejak dini memang filsafat diwajibkan atau dianjurkan dalam agama (terutama Islam). Sebab fungsi filsafat itu sendiri hanyalah spekulasi atas yang maujud dan memikirkannya selama membawa kita kepada pengetahuan akan Sang Pencipta. Al-Quran telah memerintahkan manusia untuk berpikir (i’tibar) dan terbukti dalam beberapa ayat yang ada di dalamnya. Jadi, Al-Quran memang memerintahkan manusia untuk mempelajari filsafat, karena manusia harus membuat spekulasi atas alam raya ini dan merenungkan bermacam-macam kemaujudan. Sasaran agama secara filosofis, yaitu agama berfungsi sebagai pencapaian teori yang benar dan perbuatan yang benar (al-‘ilm al-haq wal-‘amal al-haqq). Sejauh ini agama sejalan dengan filsafat, tujuan dan tindakan filsafat sama dengan tujuan dan tindakan agama. Hanya tinggal menemukan keselarasan keduanya dalam metode dan permasalahan materi saja. Menurut ibn Rusyd, agama itu didasarkan atas tiga hal yang harus diyakini oleh muslim, yaitu:
1.    Eksistensi Tuhan.
2.    Kenabian.
3.    Kebangkitan.
Ketiga prinsip inilah yang merupakan pokok permasalahan agama. Jadi, filsafat merupakan saudara kembar dari agama dan keduanya merupakan sahabat yang pada dasarnya saling mencintai.

C.      Jalan Menuju Tuhan
Dalam bukunya yang berjudul al-Kasyf ‘an Manahij al-adilla, ibn Rusyd menemukan jalan menuju Tuhan, yaitu metode-metode yang ada dalam Al-Quran untuk mencapai kepercayaan akan eksistensi atau keberadaan Tuhan dan pengetahuan akan sifat-sifat Tuhan. Buku ini ditulis dalam bentuk teologis sehingga ibn Rusyd meninjau berbagai metode dari mahzab Islam yang digolongkan menjadi lima golongan besar, yaitu :
a.    Golongan Hasyawiyah, menurut golongan ini jalan menuju Tuhan yaitu dengan cara mendengarkan lewat pengajaran secara lisan al-sam dan bukan melalui nalar.
b.    Golongan Asy’ariah, golongan ini percaya bahwa jalan menuju Tuhan itu melalui akal. Mereka memaparkan beberapa dasar-dasar pijakan mereka, seperti  dunia itu tidak kekal, benda-benda itu terdiri atas atom-atom, atom-atom itu tercipta, perantara adanya dunia itu tidak bersifat sementara dan juga tidak kekal.
c.    Orang-orang Sufi, golongan ini mengikuti cara mistis. Mereka berpendapat bahwa pengetahuan tentang Tuhan masuk ke dalam jiwa jauh dari atas sana apabila kita sudah meninggalkan semua keinginan duniawi kita sendiri.
Namun dalam pembahasannya, ibn Rusyd lebih sering mengemukakan golongan Asy’ariah saja dan ia pun tidak pernah membahas tentang golongan Batiniyah. Kemudian ia juga memberikan sedikit penjelasan tentang golongan Mu’tazillah. Ibn Rusyd menyebutkan bahwa dalam golongan ini sebagai pembuktian tentang adanya Tuhan dan pembuktian tentang penciptaan ada 3, yaitu pertama bersifat teologis, kedua bersifat kosmologis, dan ketiga adalah keduanya dimulai dari alam raya sebagai suatu keseluruhan. Sementara pembuktian adanya Tuhan bertumpu pada 2 prinsip :
1.    Semua kemaujudan yang ada sesuai dengan kemaujudan manusia.
2.    Kesesuaian ini dikarenakan oleh perantara yang berkehendak berbuat begitu, sebab kesesuaian tak terjadi dengan sendirinya.
Menurut ibn Rusyd, Tuhan itu disifati dengan tujuh sifat utama, yaitu tahu, hidup, berkuasa, berkehendak, mendengar, melihat, dan berfirman. Sedangkan tindakan-tindakan Tuhan bisa diringkaskan menjadi lima tindakan utama, yaitu mencipta, mengutus nabi-nabi, menetapkan takdir, membangkitkan kembali, dan mengadili.

D.      Jalan Menuju Pengetahuan
Salah satu masalah besar yang dibahas oleh Filsafat Muslim adalah jalan menuju pengetahuan. Karena keterkaitannya dengan kemaujudan-kemaujudan yang lebih tinggi, yaitu “akal perantara” yang dengan akal tersebut manusia berhubungan satu sama lain. Menurut ibn Rusyd sendiri akal dan ruh dibedakan dengan hati-hati dalam pemikirannya tentang proses pengetahuan. Prinsip-prinsip muslim untuk memahami substansi ruh (soul) dibagi menjadi lima, yaitu :
1.    Segala periada yang fana terdiri atas materi dan bentuk yang masing-masing dengan sendirinya bukanlah satu wujud, meski melalui gabungan keduanya wujud itu maujud.
2.    Materi utama tidak mempunyai eksistensi aktual dan hanya merupakan suatu kemampuan untuk menerima bentuk-bentuk.
3.    Wujud-wujud sederhana pertama yang merupakan perwujudan materi utama itu merupakan empat unsur, yaitu api, air, udara dan bumi.
4.    Unsur-unsur tersebut masuk ke dalam susunan wujud-wujud lain lewat percampuran. Penyebab utama terjadinya percampuran itu adalah panas alam.
5.    Benda-benda organik dihasilkan dari individu-individu hidup yang sejenis dengan benda-benda organik itu lewat panas alam.
Menurut ibn Rusyd, bentuk dari materi tidak pernah dapat dipisahkan dari materi karena bentuk fisik bisa maujud hanya dalam materi itu sendiri. Menurut tindakannya, ia membagi jiwa menjadi lima, yaitu jiwa nutritif, sensitif, imajinatif, kognitif, dan apetitif. Cara hewan mendapatkan pengetahuan adalah melalui perasaan dan imajinasi, sedangkan  cara manusia mendapatkan pengetahuan selain dari dua cara tersebut juga dilengkapi akal. Pengetahuan yang benar, yaitu pengetahuan mengenai hal-hal yang universal. Pengetahuan binatang hanya sebatas perasaan dan imajinatif, sedangkan pengetahuan manusia bersifat universal. Perasaan dan imajinatif yang dimiliki binatang hanya untuk kelestarian, keamanan, menjaga diri, dan mendapatkan makanan untuk mereka, sehingga binatang harus mendekati dan menjauhi hal-hal yang bisa dirasakan. Karena manusia mempunyai unsur yang lebih tinggi, yaitu akal maka manusia mendapatkan gambaran lewat pikiran dan nalar. Bentuk-bentuk yang diserap oleh binatang kalau diserap oleh manusia maka menjadi gambaran-gambaran universal. Mustahil apabila pengetahuan Tuhan sama dengan pengetahuan manusia, sebab pengetahuan manusia adalah akibat dari segala yang maujud, sedangkan pengetahuan Tuhan merupakan sebab dari adanya segala sesuatu itu sendiri.

E.       Jalan Menuju Tuhan
Dalam masyarakat manusia, agama lebih mendasar dan filsafat merupakan pencarian akan kebenaran. Manusia merupakan hewan yang bersifat metafisik, sedangkan ilmu merupakan suatu wujud pengetahuan yang sistematis dan terumuskan yang bertumpu pada pengamatan dan pengklasifikasian fakta-fakta. Tapi jalan menuju ilmu lebih mendasar daripada kebenaran-kebenaran ilmiah yang terperoleh, sebab melalui metode ilmiah kita dapat mencapai realitas-realitas ilmiah. Menurut Ibn Rusyd, kekekalan benda membuat kita dapat mencapai hakikat sesuatu benda, definisinya, dan memberinya nama. Mustahil Tuhan memiliki kebiasaan. Kebiasaan hal-hal yang ada benar-benar merupakan sifat mereka, karena kebiasaan hanya ada pada yang hidup. Jalan menuju ilmu dimulai dengan keimanan yang merupakan dasar ketentuan.

F.       Jalan Menuju Wujud
       Ada dua jenis metafisik yang berbeda yang diterima oleh bangsa Arab, yaitu metafisik tentang wujud dan metafisik tentang Yang Maha Esa. Pertama dari Aristoteles dan kedua dari Plotinus. Sebagai pengikut setia Aristoteles, ibn Rusyd mendefinisikan metafisik sebagai pengetahuan tentang wujud. Metafisik adalah bagian dari ilmu-ilmu teoritis. Metafisik adalah ilmu yang mempelajari keterhubungan hal-hal yang ada mengenai tatanan hierarkis, sebab mereka sampai mencapai sebab utama. Karena itu, pengetahuan tentang wujud, berupa penyelidikan akan sebab dan prinsipnya. Kemaujudan lahiriah merupakan dasar bagi pengetahuan kita. Jika suatu wujud ada di dalam pikiran kita tetapi tidak memiliki keberadaan sejati di luar, maka ia bukanlah suatu wujud, melainkan hanya sesuatu kemaujudan seperti sebuah gagasan yang tidak masuk akal. Kriteria wujud, yaitu eksistensinya yang nyata dalam bentuk potensi maupun tindakan. Ada empat syarat yang harus dimiliki benda yang akan bermaujud, yaitu :
1.    Subyek yang paling dekat.
2.    Sifatnya.
3.    Sebab pendorongnya.                    
4.    Ketiadaan sebab-sebab yang mencegahnya .
Benda-benda fisik itu terdiri atas materi dan bentuk, maka potensi selalu diakibatkan oleh adanya materi, sedang aktualitas selalu diakibatkan oleh adanya bentuk.