A.
Kehidupannya
Khawajah Nasir al-Din abu Ja’far Muhammad ibn Muhammad ibn Hasan atau
biasa dikenal dengan sebutan Tusi adalah seorang sarjana yang mahir pada bidang
ahli matematika, astronomi, dan seorang politisi Syi’ah. Tusi lahir di Tus pada
tahun 597 H/1201 M dan meninggal pada tahun 672 H/1274M. Tusi
memulai karir sebagai ahli astronomi pada Nasir al-Din ‘abd al-Rahim, Gubernur
dari benteng gunung Isma’iliah Quhistan. Kemudian pada tahun 654 H/1256 M, dia
“menyerahkan” penguasa pembunuh terakhir Rukn al-Din Khurshah ke tangan Hulagu
dan kemudian menjadi teman Hulagu sebagai penasihat tepercaya sampai
ditaklukannya Baghdad pada tahun 657 H/1258 M.
B.
Observatorium Maraghah
Tusi mencapai kemasyhurannya dengan
berhasil membujuk Hulagu untuk mendirikan sebuah Observatorium di Maraghah,
Azarbaijan, pada tahun 657 H/1259 M. Kemudian Tusi juga menyusun tabel-tabel
astronomisnya yang disebut Zij al-Ikhani yang dikenal ke seluruh Asia,
bahkan sampai ke Cina. Observatorium ini juga penting dalam tiga hal, yaitu :
1.
Merupakan observatorium pertama yang banyak
didukung.
2.
Tusi
membuat observatorium Maraghah menjadi suatu “majlis yang hebat” yang terdiri
atas orang-orang pandai dan terpelajar.
3.
Observatorium
itu dihubungkan dengan sebuah perpustakaan besar tempat disimpannya khazanah
pengetahuan yang tak terusakkan.
C.
Karya-karyanya
Karya-karya Tusi kebanyakan bersifat
eklektis (memilih dari berbagai sumber). Sebagian karya-karyanya adalah sebagai
berikut :
a.
Asas
al-Iqtibas (logika).
b.
Mantiq
al-Tajrid (logika).
c.
Ta’dil
al-Mi’yar (logika).
d.
Tajrid
al-‘Aqa’id (dogmatik).
e.
Qawa’id
al-“Aqa’id (dogmatik).
f.
Risaleh-i
I’tiqadat (dogmatik).
g.
Akhlaq-i
Nasiri (etika).
h.
Ausaf
al-Asyaraf (etika
sufi).
i.
Risaleh
dar Ithbat-i Wajib (metafisik).
j.
Itsbat-i
Jauhar al-Mufariq (metafisik).
D.
Akhlaq-i Nasiri
Kebenarannya adalah penegasan dari Akhlaq-i
Nasiri yang ditulis oleh Tusi
semata-mata merupakan terjemahan dari karya ibn Miskawaih yakni Tahdzib
al-Akhlaq. Di samping itu, pada karya miskawaih tersebut hanya terbatas
pada penggambaran disiplin moral. Displin yang menyangkut urusan rumah tangga
dan politik menurut Tusi tidak terdapat pada karya tersebut. Padahal ini
merupakan aspek yang sangan penting dari filsafat praktis dan tidak boleh
diabaikan. Karena itulah Tusi menyusun Akhlaq-i Nasiri berdasarkan pola
tersebut.
E.
Etika
Tusi membagi
etika dalam beberapa konsep, yaitu:
1.
Konsep
Kebahagiaan
Tusi beranggapan bahwa kebahagian utama
adalah tujuan moral utama yang ditentukan oleh tempat dan kedudukan manusia di dalam
evolusi kosmik dan diwujudkan lewat kesediaannya untuk disiplin dan patuh.
2.
Konsep
Kejahatan
Tusi untuk pertama kalinya
berpendapat bahwa penyimpangan bukan hanya dari segi jumlah tapi juga dari segi
mutu dan untuk penyimpangan jenis baru ini ia menamankannya perbuatan tidak
wajar. Penyakit moral itu bisa di sebabkan oleh keberlebihan, kekurangan,
dan kewajaran akal.
3.
Konsep
Kebodohan
Tusi menggolongkan penykit-penyakit
fatal akan teoritis menjadi tiga hal, yaitu :
a.
Kebingungan
Kebingungan disebaabkan oleh
ketidakmampuan jiwa untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah karena
adanya bukti yang saling bertentangan dan argumentasi yang kacau. Tusi
menyarankan agar orang yang mengalami kebingungan pertama-tama disadarkan bahwa
penegasaan dan penyangkalan bersifat eksklusif. .
b.
Kebodohan
Sederhana
Kebodohan sederhana terdapat pada
kekurangtahuan manusia akan sesuatu hal tanpa mengira bahwa dia sudah
mengetahuinya. Akan menjadi sangat fatal kalau merasa puas dengan keadaan seperti
itu. Hal ini bisa disembuhkan dengan jalan menunjukan fakta.
c.
Kebodohan
Fatal
Kekurangtahuan manusia akan sesuatu
hal dan dia merasa mengetahui hal itu. Menurut Tusi, penyakit ini adalah
penyakit yang hampir tidak bisa di sembuhkan, tetapi dengan upaya keras
matematika kemungkinan penyakit ini bisa di tekan kefatalannya menjadi
kebodohan sederhana.
4.
Konsep
Ketakutan
Tusi menganggap keketakutan sebagai
bagian dari tiga penyakit kemarahan yang menonjol dari segi keberlebihan.
Meski bukan seorang sufi, Tusi
mendorong agar tasawuf dibahas secara rasional. Ia menggolongkannya menjadi enam
tahap, yaitu:
1.
Tahap
pertama, tahap persiapan untuk perjalanan mistis yang mensyaratkan keyakinan
kepada Tuhan dan senantiasa tetap pada keyakinan itu, keteguhan kemauan,
kejujuran, perenungan akan Tuhan dan ketulusan hati.
2. Tahap kedua, terdiri atas penolakan terhadap hubungan-hubungan
duniawi yang menghalangi jalan mistis tersebut.
3. Tahap Ketiga, pejalanan mistis di tandai dengan penyedirian,
perenungan, ketakutan dan kesedihan, ketabahan, serta kebersyukuran kapada
Tuhan.
4. Tahap Keempat, mencakup pengalaman sang penjalan sebelum mencapai
tujuannya.
5. Tahap Kelima, berpasrah diri kepada tuhan, kepatuhan, ketundukan
kepada kehendak tuhan.
6. Tahap Keenam, proses peleburan diri ke dalam Tuhan mencapai puncak
dan akhirnya hanyut dalam keesaan Tuhan.
F.
Ilmu Rumah Tangga
Tujuan ilmu rumah tangga ini adalah
untuk mengembangkan sistem disiplin yang mendorong terciptanya kesejahteraan
fisik, sosial, dan mental dalam keluarga. Tusi menganggap menabung harta
sebagai tindakan yang bijaksana, asalkan hal itu tidak di dorong oleh sifat
tamak dan kikir. Tusi juga beranggapan bahwa poligami tidak di kehendaki sebab
hal itu bisa mendatangkan kekacauan dalam rumah tangga. Wanita pada dasarnya
lemah pikiran dan secara psikologis cemburu terhadap pasangan lain suaminya
dalam merebut cinta dan kekayaannya. Tusi memberikan kelonggaran poligami
kepada para raja sebab mereka memerintahkan kepatuhan tanpa syarat, tapi
sebagai langkah yang bijaksana mereka di sarankan agar menghindari hal itu. Tusi
menutup pembahasan tentang ilmu rumah tangga ini dengan
menekankan sekali lagi pemerhatian hak-hak orang tua, sebagaimana ditetapkan
oleh Islam. Tusi berkesimpulan bahwa hak-hak ayah terutama bersifat mental,
sedangkan hak-hak ibu bersifat fisik.
G.
Politik
Pelaksana keadilan merupakan fungsi
utama pemerintahan. Menurut tusi, raja haruslah seorang yang adil, yang menjadi
penengah kedua setelah hukum Tuhan. Raja seperti itu yang merupakan wakil Tuhan
di bumi dan merupakan dokter bagi kekerasan dunia. Tugas pertamanya dan yang
paling utama adalah mengukuhkan Negara dan menciptakan rasa cinta di antara
kawan-kawannya, serta kebencian di antara musuh-musuhnya. Ia juga harus
meningkatkan kesatuan antar sarjana, prajurit, petani, dan pedagang. Tusi
menetapkan prinsip-prinsip etika perang sebagi petunjuk bagi penguasa. Musuh
tidak boleh dianggap enteng serendah apapun dia. Tapi perang harus dihindari
sedapat mungkin lewat muslihat-muslihat diplomatis sekalipun tanpa harus
melakukan pengkianatan.
H.
Sumber Filsafat Praktis
Menurut Tusi, perintah-perintah Al-quran diberikan kepada manusia
sebagai seorang individu, anggota keluarga, dan penguhuni kota atau Negara. Sedangkan
pembagian itu sendiri menggambarkan pembagian filsafat praktis menjadi etika, rumah tangga,
dan politik.
I.
Psikologi
Tusi beranggapan bahwa jiwa
merupakan suatu realitas yang bisa terbukti sendiri dan oleh karena itu, jiwa
tidak memerlukan lagi bukti lain. Lagi pula jiwa itu sendiri tidak bisa
dibuktikan.
● Sifat Jiwa
Jiwa dapat mengontrol tubuh melalui otot-otot dan
alat-alat perasa, tapi ia sendiri tidak dapat dirasa lewat alat-alat tubuh.
● Indera-indera Jiwa
Menurut para pendahulu, jiwa dibagi
menjadi tiga, yaitu jiwa vegetatif, hewani, dan manusiawi. Kemudian al-Tusi menambahkan jiwa imajinatif di
antara jiwa hewani dan jiwa manusiawi. Jiwa imajinatif itu sendiri berkenaan dengan persepsi-persepsi rasa di satu
pihak saja dan dengan abstraksi-abstraksi rasional di pihak lainnya. Jika jiwa tersebut disatukan dengan jiwa hewani, ia
bergantung kepadanya dan hancur bersamanya dan
jika
dihubungkan dengan jiwa manusia, ia terlepas dari anggota tubuh dan ikut bergembira
atau bersedih bersama jiwa itu. Tusi mempercayai lokalisasi fungsi dalam otak. Akal sehat berada dalam ruang otak yang pertama, persepsi berada di awal bagian pertama ruang otak yang
kedua, lalu imajinasi berada di bagian depan ruang otak yang ketiga, dan
ingatan berada di bagian belakang otak.
J.
Metafisika
Menurut Tusi, metafisika terdiri atas dua bagian, yaitu :
1.
Ilmu Ketuhanan.
2.
Filsafat Pertama.
Pengetahuan tentang Tuhan, akal dan jiwa termasuk
ke dalam ilmu ketuhanan. Sedangkan pengetahuan mengenai alam semesta dan
hal-hal yang berhubungan dengan alam semesta termasuk
ke dalam filsafat pertama.
K.
Kenabian
Tusi menetapkan tentang perlunya kenabian dan kepemimpinan
spiritual. Akibat dari pertentangan minat serta kebebasan individu mengakibatkan tercerai-berainya kehidupan sosial, dalam hal ini diperlukan aturan suci dari Tuhan untuk mengatur urusan-urusan
manusia. Tuhan yang di luar jangkauan indera mengutus para nabi sebagai penuntun.
L.
Baik dan Buruk
Menurut Tusi, segala yang baik datang dari Tuhan, sedangkan yang buruk muncul sebagai kebetulan dalam perjalanan yang baik itu. Di dalam dunia manusia, keburukan terkadang terjadi karena kesalahan penilaian atau penyalahgunaan
karunia Tuhan yang berupa kehendak bebas. Tuhan
selalu mengkhendaki kebaikan yang menyeluruh akan tetapi banyak hal-hal yang menutupi pikiran kita dan
mengaburkan pandangan mental kita. Akhirnya, keburukan muncul dari kebodohan,
atau akibat dari cacat fisik, atau kekurangan
terhadap sesuatu yang bisa mendatangkan kebaikan.
M.
Logika
Tusi
menganggap bahwa logika sebagai suatu ilmu dan suatu
alat ilmu. Sebagai ilmu, logika bertujuan
untuk memahami makna-makna dan sifat dari makna-makna yang dipahami tersebut. Sebagai alat, logika menjadi kunci untuk memahami berbagai
ilmu.