Minggu, 14 September 2014

Landasan Dasar Kajian Teoritik (Materi Kedua)


Pembahasan utama dalam materi ini dibagi menjadi empat bagian, yaitu :
1.        Tipe Keilmuan.
2.        Teori dan Perspektif.
3.        Aliran Teori Komunikasi.
4.        Dasar Pengembangan Teori.

Berikut akan dibahas secara lebih mendalam :
1.        Tipe Keilmuan.
Tipe Keilmuan
Ciri-ciri
Scientific
(Ilmiah ─ Empiris)
Ilmunya bersifat objektif
(Standarisasi-Reflikasi-Observasi-Konsistensi-Akurasi)
Tujuannya adalah mengobservasi alam dan menjelaskan sesuatu secara akurat.
Berupaya memperoleh konsensus (kesepakatan/persamaan) dan mereduksi (mengurangi) perbedaan.
Ada pemisahan antara “Known” dan “Knower” pada ilmu sebagai aktifitas “Out There”
Dunia dipandang sebagai bentuk yang dapat diobservasi.
Humanistic
(Humaniora ─ Interpretif)
Ilmunya bersifat subjektif
(Intuisi-Kreatifitas-Interpretasi-Insight).
Tujuannya adalah memahami respon subjektif pada individu.
Berupaya untuk mencari interpretasi alternatif.
Ilmu dipandang sebagai aktifitas “In Here” dan fokusnya pada seni, pengalaman pribadi, dan nilai.
Merupakan kreatifitas individual.
Social Science
(Ilmu-ilmu Sosial)
Memasukan elemen-elemen yang ada dalam tipe keilmuan Science dan Humaniora (percampuran antara keduanya).
Tujuannya adalah mengobservasi dan menginterpretasi pola perilaku manusia.
Berupaya untuk membangun konsensus dari apa yang telah diobservasi kemudian dijelaskan dan diinterpretasi.
Interpretasinya bersifat kompleks karena yang diteliti adalah manusia sebagai subjek yang aktif.

2.        Ilmu, Konsep, Teori, dan Perspektif
Pertama akan dibahas terlebih dahulu tentang konsep. Pengertian dari konsep adalah sekelompok hal atau kegiatan yang dimasukkan ke dalam sebuah kategori. Konsep itu sendiri merupakan salah satu tujuan pokok dari sebuah teori di mana teori akan mempresentasikan konsep-konsep berguna. Bagian terpenting dari konseptualisasi adalah Labeling (mengidentifikasikan konsep kita dengan simbol, biasanya menggunakan bahasa). Di dalam konsep terdapat istilah Taxonomy, yaitu sejumlah daftar konsep tanpa penjelasan bagaimana hal-hal tersebut dapat terhubung satu sama lain.
Kedua akan dibahas mengenai teori. Pengertian teori adalah sekumpulan prinsip dan definisi yang mengorganisasikan dunia empiris secara sistematis. Teori merupakan abstraksi realitas. Teori itu sendiri terdiri dari sejumlah konsep yang menyediakan penjelasan. Teori juga sebagai generalisasi yang diterima secara empiris. Keperluan teori dibagi menjadi dua, yaitu :
Causal Necessity
(Keperluan Penyebab)
Menjelaskan sesuatu dalam istilah “Cause-effect” (Perilaku dipandang sebagai hasil kekuatan penyebab.
Practical Necessity
(Keperluan Praktis)
Menjelaskan sesuatu dalam istilah “Achieving a goal” (Tindakan sadar yang didesain untuk mendapatkan masa depan).
Fungsi dari teori itu sendiri adalah untuk mengorganisasikan dan menyimpulkan, memfokuskan, menjelaskan, mengamati, membuat prediksi, heuristik (untuk mengembangkan pengetahuan), komunikasi, mengendalikan, dan generatif (untuk menghasilkan cara hidup baru).
Ketiga akan dibahas mengenai perspektif. Pengertian perspektif adalah definisi situasi atau seperangkat gagasan yang melukiskan karakteristik situasi dan memungkinkan mengambil sebuah tindakan. Perspektif itu sendiri sering disebut dengan paradigma atau mazhab pemikiran (suatu cara pandang untuk memahami komplesitas dunia nyata). Perspektif juga bisa diartikan sebagai suatu spesifikasi jenis tindakan yang layak dan masuk akal dilakukan seseorang dan standar nilai yang memungkinkan seseorang dapat dinilai.
Jenis Perspektif
Objective
Subjective
Nama Lainnya :
Saintifik                 Mekanistik
Empiris                   Deterministik
Behavioristik          Kuantitatif
Struktural               Deduktif
Positivistik             Atomistik
Fungsionalis           Rasionalistik
Dan lain-lain.
Nama Lainnya :
Humanistik                 Naturalistik
Interpretif                   Interaksionis
Fenomenologis           Interaksional
Konstruktivis              Kualitatif
Konstruksionis           Induktif
Holistik                       Dinamis
Kontemporer                   Dan Lain-lain.

A.      Perspektif Objektif
    Karakteristiknya
       Dalam perspektif objektif realitas dianggap tunggal, seragam, nyata, eksternal, statis dan diatur oleh hukum universal. Manusia dianggap sebagai objek yang pasif di mana perilaku manusia dikontrol oleh lingkungan (mekanis) dan dapat diramalkan (cause-effect). Penelitian pada perspektif objektif bersifat otonom, berjarak dari subjek penelitian, penelitian berjangka pendek, sampel besar, menguji teori, dan bersifat generalis. Metodologi empirisnya menekankan pada eksperimental dan survey korelasional. Analisis dari perspektif objektif bersifat deduktif (sebuah cara analisis yang dilakukan saat data sudah terkumpul dan biasanya menggunakan statistik). Kriteria penelitiannya adalah objektivitas, reliabilitas dan validitas yang menekankan pada kesepakatan peneliti, kuantifikasi, serta reflikasi penelitian. Penelitian tersebut dianggap sebagai bebas nilai, etika, dan moral.
    Pendekatan Objektive
Pendekatan objektive dibagi menjadi dua, yaitu :
Pendekatan Behavioristic
Karakteristik
Contoh teori-teorinya
Pendekatan ini memandang manusia sebagai produk lingkungan di luar. Rangsangan dari luar mempengaruhi manusia dalam memberikan respon.
Hubungan dalam pendekatan ini bersifat kausal. Menggunakan positivisme logis yaitu dengan verifikasi dan penemuan lewat logika.
Metode penelitian dalam pendekatan ini banyak menggunakan eksperimen terkontrol.
Public speaking (Model Aristoteles ).
Teori Informasi (Claude Shannon).
Teori Jarum Hypodermik (Wilbur Schramm).
Teori Belajar Sosial (Albert Bandura).
Teori Disonanasi Kognitif (Leon Festinger).
Teori Pertukaran Sosial (Jhon Thibaut dan Harold Kelley).
☺ Teori Kultivasi (George Gerbner).

Pendekatan Struktural Fungsional
Karakteristik
Contoh teori-teorinya
Pendekatan ini dilakukan melalui pengamatan ilmiah pada perilaku luar (overt behavior). Gagasan tentang jiwa, spirit, kemauan, pikiran, kesadaran, dan subjektivitas ditolak.
Pendekatan ini juga mengukur pengaruh struktur sosial terhadap identitas, respon,  dan perilaku manusia melalui peran (role), sosialisasi, dan keanggotaan kelompok mereka (Socially- determined).
Metode penelitian pada pendekatan ini banyak menggunakan survey (korelasional).
Helical Model (Frank Dance).
ABX Model (Theodore Newcomb).
Model Komunikasi Antarbudaya (William Gudykunts & Young Yun Kim).
Teori Norma Budaya (Melvin DeFleur).
Teori Uses and Gratification (Elihu Katz, Jay G Blumler, Michael Gurevitch)
Teori Spiral of Silence (Elisabeth Noelle Neumann).

B.       Perspektif Subjektif
    Karakteristiknya
Pada perspektif subjektif, pengetahuan tidak mempunyai sifat objektif dan sifat yang tetap. Perspektif ini bersifat interpretif dan maknanya dapat dinegosiasikan. Realitas sosial dianggap sebagai interaksi sosial yang bersifat komunikatif. Dalam pendekatan kreatif, individu menciptakan apa yang ada (di luar sana). Perspektif ini beranggapan bahwa setiap manusia bersifat unik dan fenomena sosial bersifat sementara dan polisemik (multi makna).
    Contoh Teori-teori Pendekatan Subjektif
Fenomenologi (Alfred Schutz).
Etnometodologi (Harold Garfinkel).
Teori Dramaturgi (Erving Goffman).
Teori Dramatisme (Kenneth Burke).
Teori Kritis (Karl Marx, Frankfurt School).
Cultural Studies (Michel Foucault).
Standpoint Theory (Julia T Wood).
Muted Group Theory (Cheris Kramarae).

Minggu, 07 September 2014

Materi Pengantar ke Studi Komunikasi (Materi Pertama)

Dalam materi ini ada empat hal yang akan dibahas, yaitu :
1.    Review Historis
2.    Lingkup Komunikasi
3.    Tradisi Komunikasi, dan
4.    Komunikasi Massa
Berikut akan dibahas secara lebih mendalam.

1.    Review Historis
Pada review historis ini ada empat fase yang akan dibahas, yaitu :
1)   Fase Rhetorika Yunani (abad ke-5 SM)
Fase ini dinamakan dengan fase “Rhetorike” yang dipelopori oleh Georgias (480-370 SM) dikenal sebagai seni berbicara untuk kemenangan, Protagoras (500-432) dikenal sebagai keindahan bahasa, Socrates (469-399) dikenal sebagai demi kebenaran memalui dialog. Puncak retorika pada saat itu terjadi pada masa Demosthenes yang dikenal sebagai kemahiran berbicara di depan umum dan pada masa Aristoteles yang dikenaal sebagai pembuktian maksud pembicaraan melalui upaya menampakkan pembuktian logika.
2)   Fase Rhetorika Romawi
Fase ini dikembangkan oleh Marcus Tulius Cicero pada 106-43 SM dalam bukunya yang berjudul “Oratone”. Fokus pada fase ini berdasarkan pada sistematika retorika pada dua tujuan pokok, yaitu Suasio (anjuran) dan Dissuasio (penolakan). Tujuan dalam fase ini adalah menyadarkan publik tentang hal-hal yang menyangkut pada kepentingan rakyat, parundang-undangan, dan keputusan yang akan diambil.
3)   Fase Publisistik
Embrio pada fase ini adalah pada Gaius Julius Caesar pada 100-44 SM yang mempelopori Acta Diura yaitu cikal bakal jurnalistik dan penemuan mesin cetak oleh Johannes Gutenberg pada 1400-1468. Avisa Relation Order Zeitung merupakan surat kabar pertama yang muncul pada tahun 1609. Pada abad ke-19  dikenal Science of the Press (Zeitungwissenschaft). Prof. Dr. Karl. Bucher pertama kali mengajarkan ilmu publisistik di Universitas Bazel kemudian di Universitas Leipzig, oleh karena itu ia dianggap sebagai Bapak Ilmu Publisistik.
4)   Fase Communication Science
Awal mula fase ini adalah oleh Joseph Pulitzer pada 1903 yang memiliki gagasan School of Journalism yang didukung oleh Charles Eliot (Harvard) dan Nicholas Murray Butler (Columbia) dikenallah mass media communication. Kemudian dilakukan penelitian lanjutan oleh Paul Lazarsfeld, Bernard Berelson, Wilbur Schramm, Everett M Rogers, dll dan disimpulkan bahwa komunikasi hanya satu di antara beberapa dimensi lain dari proses komunikasi. Sehingga ilmu tentang hal tersebut berubah menjadi communication science. Pada tahun 1960, Carl I Hovland dalam karyanya “Social Communication” yang didefinisikan sebagai “suatu upaya sistematis untuk merumuskan dengan cara yang setepat-tepatnya asas-asas pentransmisian informasi serta pembentukan opini dan sikap”. Pada tahun 1967 terbitlah buku “The Communicative Arts of Sciences of Speech” yang ditulis oleh Keith Brooksdan memperkenalkan istilah communicology. Istilah tersebut juga digunakan oleh Joseph A Devito. Devinisinya adalah studi tentang ilmu komunikasi secara khusus berkaitan dengan komunikasi oleh dan di antara manusia.

   Para Perintis
      Charles Cooley (Sosiolog).
      Walterlippman (Wartawan).
      Sapir (Antropolog).
      Whrof (Linguis).
      Wiener dan Shannon (Cybernetic Scientist)
      Newcomb, Osgood, Klapper, Katz, dll (Psikolog)
      Pool & Lasswell (Political Scientist)
      Boulding (Ekonom), dll.

   The Founding Fathers
    Harold D Lasswell (Illinois, Amerika serikat), karya monumentalnya adalah ”Propaganda and Communication in World History”.
 Kurt Lewin (Jerman), pemikirannya adalah mengenai “gatekeeping”, “group dynamic”, “consistency Theory” mempengaruhi Festinger “Cognitive Dissonance”, New Comb “A-B-X Model” dll.
      Paul Lazarsfeld (Wina), kontribusi nyatanya misal peneilitian tentang “Limited Effect”.
      Carl Hovland (AS), karyanya antara lain adalah “Communication and Persuasion”.
  Wilbur Schramm, yang disebut Everret M Roger sebagai “Institulizer of Communication Research”.

2.    Lingkup Komunikasi
Dalam lingkup komunikasi ada lima hal, yaitu :
      Sifat
      Tujuan
      Fungsi
      Teknik, dan
      Metode.

   Bidang Komunikasi
Bidang komunikasi dibagi menjadi delapan, yaitu :
      Social communication.
      Organizational Communication.
      Business Communication.
      Political Communication.
      Internasional Communication.
      Intercultural Communication.
      Development Communication.
      Tradisional Communication.


  Sifat Komunikasi
Ada beberapa sifat komunikasi, yaitu :
     Komunikasi Verbal, seperti komunikasi secara lisan dan tulisan.
     Komunikasi Non Verbal, seperti Kial/Gestural Communication dan Pictorial Communication.
     Komunikasi Tatap Muka (Face-To-Face-Communication).
     Komunikasi Bermedia (Mediated Communication).

  Tatanan Komunikasi
Dalam tatanan komunikasi dibagi juga menjadi beberapa bagian, yaitu :
      Personal Communication, seperti intrapersonal dan interpersonal. 
  Group Communication, seperti Small Group Communication Ceramah, Forum, Simposium, Seminar, dan Brainstorming) dan Large Group Communication (Public Speaking). 
     Komunikasi Massa, seperti Printed Mass Media Communication dan Electronic Mass Media Communication. 
     Medio Communication, seperti Surat, Telepon, Pamflet, Poster, Spanduk, dll.

  Tujuan Komunikasi
Tujuan komunikasi memiliki empat tingkatan fungsi dari yang terendah sampai tersulit. Fungsi pertama, yaitu to Change Opinion. Fungsi kedua, yaitu to Change the Behavior. Fungsi ketiga, yaitu to Change Attitude. Fungsi keempat, yaitu to Change the Society.

  Fungsi Komunikasi
Ada empat fungsi komunikasi, yaitu untuk informasi, untuk pendidikan, untuk hiburan, dan untuk mempengaruhi.

☺   Teknik Komunikasi
Ada enam teknik komunikasi, yaitu Informative Communication, Persuasive Communication, Pervasive Communication, Coersive Communication, Instructive Communication, dan Human Relations.

     Metode Komunikasi
Metode komunikasi dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu Journalism, Public Relations, Advertising, Propaganda, Phsywar, Broadcasting, dan Publicity.

   Typologi Model Komunikasi
Model komunikasi dibagi menjadi tiga bagian, yaitu : 
    Komunikasi sebagai Aksi, disebut sebagai Model Linear. 
     Komunikasi sebagai Interaksi, disebut sebagai Model Interaksional. 
      Komunikasi sebagai Transaksi, disebut sebagai Model Transaksional.

3.    Tujuh Tradisi Komunikasi
Tujuh tradisi komunikasi yaitu sebagai berikut : 
1)   Tradisi Sosio Psikologis, yaitu komunikasi sebagai pengaruh interpersonal.
2)   Tradisi Sibernetik, yaitu komunikasi sebagai pemrosesan informasi.
3)   Tradisi Retorika, yaitu komunikasi sebagai berbicara menarik di depan publik.
4)   Tradisi Semiotika, yaitu komunikasi sebagai proses berbagai arti melalui isyarat.
5)   Tradisi Socio-Cultural, yaitu komunikasi sebagai pembuatan dan pengembangan realitas sosial.
6)   Tradisi Kritikal, yaitu komunikasi sebagai cerminan wacana ketidakadilan. 
7) Tradisi Fenomenological, yaitu komunikasi sebagai dialog pengalaman pribadi dan pengalaman orang lain.