Minggu, 16 Maret 2014

Filsafat Islam (Materi Pertama)


A.      Bentuk Pengetahuan
Dalam hal ini, bentuk pengetahuan dibagi menjadi dua. Pertama, pengetahuan yang diperoleh melalui wahyu, bukan hasil usaha aktif dari manusia. Biasanya yang memperoleh pengetahuan ini adalah Rasul dan Nabi. Kedua, pengetahuan yang diperoleh manusia melalui akal dan indera, berasal dari hasil usaha aktif manusia itu sendiri. Biasanya yang memperoleh pengetahuan ini adalah seorang ilmuan, namun pada dasarnya semua orang bisa memperolehnya. Pengetahuan ini dibagi lagi menjadi 3 bagian, yaitu pengetahuan indera, ilmu atau sains, dan filsafat.

B.       Pengertian Kata Filsafat dan Definisi Filsafat
Kata falsafah atau filsafat diambil dari bahasa Yunani; philosophia, merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata (philia : persahabatan, cinta) dan (sophia : kebijaksanaan). Jadi bisa disimpulkan secara sederhana filsafat adalah pecinta kebijaksanaan. Definisi filsafat itu sendiri adalah hasil proses berpikir secara rasional dalam mencari hakikat sesuatu secara sistematis, menyeluruh (universal), dan mendasar (radikal). Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, maka ciri-ciri berpikir secara filsafat adalah rasional, sistematis, universal, dan radikal.

C.      Objek Bahasan Filsafat
Objek bahasan filsafat ada 3, yaitu Ontologi (Al-Wujud), Epistemolgi (Al-Ma’rifat), dan Aksiologi (Al-Qayyim). Ontologi membahas atau mengkaji tentang hakikat segala yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Dalam objek ini dibagi menjadi 2 bidang (fisika dan metafisika), fisika mencakup segala aspek ‘fisik’ seperti manusia, alam semesta, dan segala yang terkandung di dalamnya baik hidup maupun mati dan metafisika mencakup aspek ketuhanan dan imateri. Epistemologi membahas atau mengkaji tentang hakikat dan wilayah pengetahuan. Epistemologi mempelajari asal mula atau sumber, struktur, metode, dan syahnya (validitas) pengetahuan. Aliran dalam epistemologi terbagi menjadi 2 (idealisme dan realisme), jika idealisme menekankan pada pentingnya peran akal dan idea sebagai sumber ilmu pengetahuan, pengetahuan sesuai dengan kenyataan adalah mustahil, sedangkan realisme menekankan pada pentingnya indera dan pengalaman sebagai sumber sekaligus alat dalam memperoleh pengetahuan, pengetahuan ini sesuai dengan kenyataan. Aksiologi membahas atau mengkaji masalah nilai atau norma yang berlaku pada kehidupan manusia. Aksiologi terbagi menjadi beberapa disiplin, yaitu etika (hakikat atau ukuran baik dan buruk), estetika (hakikat atau ukuran indah dan tidak indah, logika (hakikat atau ukuran benar dan salah).

D.      Sejarah Filsafat Islam
Pemikiran filsafat masuk ke dalam Islam melalui filsafat Yunani yang dijumpai kaum Muslimin pada abad ke-8 Masehi atau abad ke-12 Hijriah di Suriah, Mesopotamia, Persia, dan Mesir. Kebudayaan dan filsafat Yunani masuk ke daerah-daerah itu melalui ekspasi Alexander Yang Agung, penguasa Macedonia (336-323 SM), setelah mengalahkan Darius pada abad ke-4 SM di kawasan Arbela. Alexander datang tidak menghancurkan peradaban dan kebudayaan Persia, justru menyatukan kebudayaan Yunani dan Persia dengan cara menikah dengan Statira, anak Darius. Kemudian 24 jendral dan 10.000 prajuritnya dianjurkan menikah dengan wanita Persia. Hal ini telah memunculkan pusat-pusat kebudayaan Yunani di wilayah Timur, seperti Alexandria di Mesir, Antiokia di Suriah, Jundisyapur di Mesopotamia, dan Bactra di Persia.
Kelahiran ilmu filsafat islam tidak terlepas dari adanya usaha penerjemah naskah-naskah ilmu filsafat dan berbagai abang ilmu pegetahuan ke dalam bahasa Arab. Pada masa pemerintahan Harun Al-Rasyid, utusan khusus dikirim ke kerajaan Romawi untuk mencari menuskrip yang kemudian dibawa ke Baghdad untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Usaha ini telah menghasilkan tersedianya buku-buku berbahasa Arab dalam jumlah banyak di perpustakaan-perpustakaan. Ketersediaan buku-buku terjemahan tersebut dimanfaatkan oleh kalangan Muslim untuk berkenalan dengan ilmu pengetahuan dan filsafat, seperti yang telah dilakukan oleh orang-orang Yahudi, Kristen, dan Majusi pada masa-masa sebelum munculnya Islam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar