A.
Dorongan Al-Qur’an Terhadap Akal dan Pemikiran Filsafat
Di dalam al-Qur’an sedikitnya
terdapat 8 penjelasan tentang dorongan terhadap akal dan pemikiran filsafat,
yaitu :
1. ‘Aqala
yang berarti ‘berpikir’, di dalam al-Qur’an setidaknya kurang lebih terdapat 45
ayat yang menyebutkan kata ini.
2. Nazhara
yang berarti ‘melihat atau menalar’, di dalam al-Qur’an setidaknya kurang lebih
terdapat 30 ayat yang menyebutkan kata ini.
3. Tadabbara
yang berarti ‘merenungkan’, di dalam al-Qur’an setidaknya kurang lebih terdapat
2 ayat yang menyebutkan kata ini.
4. Tafakkara
yang berarti ‘berpikir’, di dalam al-Qur’an setidaknya kurang lebih terdapat 16
ayat yang menyebutkan kata ini.
5. Faqiha
yang berarti ‘mengerti atau paham’, di dalam al-Qur’an setidaknya kurang lebih
terdapat 16 ayat yang menyebutkan kata ini.
6. Tazakkara
yang berarti ‘mengingat, mempelajari’, di dalam al-Qur’an setidaknya kurang
lebih terdapat 44 ayat yang menyebutkan kata ini.
7. Fahima
yang berarti ‘memahami’, di dalam al-Qur’an setidaknya kurang lebih terdapat satu
ayat yang menyebutkan kata ini.
8. Ulu
al-bab yang berarti ‘orang berpikiran’, di dalam al-Qur’an setidaknya ada
beberapa ayat yang menyebutkan kata ini.
B.
Filsafat Islam dan Tasawuf
Tasawuf merupakan suatu ilmu
pengetahuan yang mempelajari tentang cara-cara dan bagaimana seorang Islam
berada sedekat mungkin dengan Allah SWT. Tasawuf berasal dari kata “sufi”,
yaitu sejenis wol kasar yang biasanya terbuat dari bulu domba yang dipakai oleh
orang-orang yang hidup sederhana, namun berhati suci dan mulia. Orang yang
pertama kali menggunakan pakaian ini adalah Nazrudin Khoja. Ia adalah seseorang yang memiliki harta berlimpah
namun hidup secara sederhana. Awalnya ia menggunakan pakaian ini ke sebuah
pesta besar dan diusir karena dianggap menggunakan pakaian yang tidak layak.
Namun kemudian ia berganti pakaian dan menggunakan pakaian mewah, lalu disambut
dengan baik oleh tuan rumah. Terbukti bahwa orang-orang hanya melihat dari apa
yang ia pakai bukan dari siapa dirinya.
C.
Perbedaan Filsafat Islam dan Tasawuf
Perbedaan
filsafat Islam dengan tasawuf dapat dilihat dari 3 hal, yaitu :
1.
Filsafat
itu memandang dengan mata akal dan mengikuti metode argumentasi dan logika.
Sedangkan tasawuf itu menempuh jalan mujahadah (pengekangan hawa nafsu) dan
musyahadah (pandangan batin), bahasa intuisi, dan pengalaman batin.
2. Dilihat
dari objeknya, objek filsafat adalah segala yang ada. Sedangkan objek tasawuf
adalah mengenal Allah.
3. Adanya
saling kritik antara kaum sufi dan kaum filsof Islam. Antara tasawuf terhadap
filsafat ataupun filsafat terhadap tasawuf.
D.
Filsafat Islam dan Ushul Fiqih
Ushul fiqih merupakan ilmu tentang
dasar-dasar hukum Islam. Penyusun ilmu ini yang pertama kali adalah Imam
Syafi’i dengan bukunya yang berjudul “al-Risalat”, yang pertama kali dipelajari
dalam ilmu ini adalah soal niat. Ushul fiqih cenderung lebih dekat dan masuk ke
dalam ruang lingkup filsafat Islam karena dalam menetapkan hukum syariatnya
menggunakan pemikiran-pemikiran filosofis, bahkan cenderung mengikuti ilmu
logika. Dalam ushul fiqih dikenal dengan konsep ijtihad (usaha mengeluarkan
ketentuan hukum dengan akal pikiran), al-ra’y (akal pikiran), al-qiyas
(analogi), dan ‘ilat (sebab).
E.
Filsafat Islam dan Sains
Setiap filsof itu adalah ilmuwan
karena filsafat berdiri atas dasar ilmu pasti dan ilmu alam. Namun harus lebih
diperjelas lagi jika tidak semua ilmuwan adalah seorang filsof. Pada masa
peradaban Islam mencapai kejayaannya (pada masa Dinasti Abbasiah) antara filsafat, sains, dan agama berbaur menjadi satu sehingga
saling mempengaruhi satu sama lain. Namun setelah abad ke-6 H, terputuslah
hubungan antara filsafat dan sains. Hal itu dikarenakan pada masa itu berdiri
‘bait al-hikam’, yaitu rumah peradaban dan laboratorium. Kemudian bait al-hikam
dibakar oleh penjajah Eropa, buku-buku yang terdapat di sana dijarah. Sebagian
bukunya ada yang dibuang ke laut hitam dan ada pula yang dibakar. Semenjak
kejadian itu terputuslah hubungan antara filsafat dan sains.
F.
Filosof Islam dan Sains
Terdapat
beberapa filosof Islam dan sains, diantaranya adalah :
1.
Al-Kindi (ahli ilmu pasti dan ilmu falak).
2. Ibnu Sina (ahli ilmu kedokteran).
3. Al-Hasan ibnu Haitam (menemukan ilmu pasti).
4. Abu Musa Jabir ibnu Hayyan (ahli dibidang kimia).
5. Abu Raihan ibnu Ahmad Al-Baruni (ahli ilmu falak).
6. Muhammad Al-Syarif Al-idrisi (ahli ilmu bumi alam).
7. Abu Zakariyya Yahya Ibnu Awwam (ahli dibidang pertanian).
8. Abu Usman Amr ibnu Bahr Al-Jahiz (ahli ilmu hewan).
G.
Filsafat Islam dan Filsafat Yunani
Logika Yunani mempunyai pengaruh yang sangat besar pada alam pikiran
Islam di zaman Bani Abbas. Banyak sekali para filosof Islam maupun non-Islam yang terpengaruh oleh pemikiran filosof
sebelumnya. Khalifah Al-Makmun merupakan seorang intelektual yang mendirikan akademi ‘Bait
al-Hikam’. Akademi ini tidak hanya sebagai tempat
penerjemahan namun juga pusat pengembangan filsafat dan sains. Dalam era tersebut, berbagai buku
filsafat dalam berbagai bidang yang menggunakan bahasa Siryani, Persia dan
Yunani diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Dengan adanya era tersebut, umat
Islam telah mampu menguasai intelektual dari tiga kebudayaan yang sudah tinggi
pada saat itu (Yunani, Persia dan India). Bukan hanya itu, mereka juga mengembangkan dan menambahkan hasil observasi
ke dalam sains dan hasil pemikiran ke dalam lapangan filsafat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar