A.
Masa Hidup
Abu Yusuf Ya’qub ibn Ishaq ibn
Sabbah ibn Imran ibn Ismail al-Ash’ats bin Qais Al-kindi atau yang biasa
disebut Al-Kindi merupakan filosof muslim pertama. Ia lahir pada 185 H/801 M
dan wafat pada 260 H/873 M. Al-Kindi merupakan muslim Arab pertama yang
mempelajari ilmu pengetahuan dan filsafat, maka dari itu ia disebut sebagai
“Ahli-Filsafat Arab”. Selain bisa berbahasa Arab, ia juga mahir berbahasa
Yunani dan Syria. Ayahnya yang bernama Ishaq al-Sabbah, merupakan gubernur
Kufah (pusat kebudayaan Islam yang cenderung kepada studi-studi aqliah) selama
kekhalifahan Abbasiyah al-Mahdi dan al-Rasyid. Kufah merupakan tempat di mana
Al-Kindi menghapal al-Quran, mempelajari tata bahasa arab, kesusastraan dan
ilmu hitung. Ia juga mempelajari Fiqh dan kalam.
Dalam perkembangannya, al-Kindi
lebih tertarik kepada ilmu pengetahuan dan filsafat. Menurut Al-Qifti (penulis
biografi al-Kindi), al-Kindi menerjemahkan banyak buku filsafat, menjelaskan
hal-hal yang pelik, dan menyaripatikan teori-teori canggih filsafat. Namun,
kemahsyuran al-Kindi tentang pengetahuannya berbanding lurus dengan
kemahsyurannya akan kekikirannya. Al-Kindi menjadi seorang yang sangat sombong.
Keburukannya ini digambarkan dalam karikatur al-jahiz dalam bukunya Kitab
al-Bukhala.
B.
Karya-karyanya
Al Kindi telah menulis banyak karya
dalam berbagai disiplin ilmu, dari metafisika, etika, logika dan psikologi,
hingga ilmu pengobatan, farmakologi, matematika, astrologi dan optik, juga
meliputi topik praktis seperti parfum, pedang, zoologi, kaca, meteorologi dan
gempa bumi. Karya-karya al-Kindi berjumlah 270
buah yang kebanyakan berupa risalah-risalah pendek. Beberapa karya ilmiahnya
telah diterjemahkan oleh Gerard dari Cremona ke dalam bahasa Latin, dan
pemikirannya itu sangat mempengaruhi pemikiran Eropa pada abad pertengahan.
C.
Filsafatnya
Menurut al-Kindi, filsafat hendaknya
diterima sebagai bagian dari kebudayaan Islam. Baginya, filsafat adalah
pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu dalam batas-batas kemampuan manusia,
karena tujuan para filsosof dalam berteori ialah mencapai kebenaran, dan dalam berpraktek,
ialah menyesuaikan dengan kebenarannya. Teori dan praktek merupakan awal
kebajikan. Masing-masing dibagi menjadi fisika, matematika dan teologi. Praktek
dibagi menjadi bimbingan diri, keluarga dan masyarakat. Menurut Ibn Nabatah
dari Al-Kindi, ilmu-ilmu filsafat terdiri atas tiga hal, yaitu:
1.
Pengajaran
(ta’lim), yaitu matematika yang bersifat mengantar.
2.
Ilmu
alam, yang bersifat terakhir.
3.
Ilmu
agama yang bersifat paling tinggi.
D.
Keselarasan Filsafat dengan Agama
Al-Kindi mengarahkan filsafat muslim
ke arah kesesuaian antara filsafat dan agama. Keselarasan antara filsafat dan
agama didasarkan atas 3 alasan, yaitu :
1.
Ilmu
agama merupakan bagian dari filsafat.
2.
Wahyu
yang diturunkan kepada nabi dan kebenaran filsafat saling bersesuaian.
3.
Menuntut
ilmu, secara logika, diperintahkan dalam agama.
Awalnya al-Kindi menolak secara
keras bahwa filsafat dan agama itu tidak selaras. Namun al-Kindi telah membuka
pintu bagi penafsiran filosofis terhadap al-Qur’an, ia mengkaji ulang dan
akhirnya memberikan dua pandangan yang berbeda, yaitu :
1.
Mengikuti
jalur ahli logika dan memilsafatkan agama.
2.
Memandang
agama sebagai ilmu ilahiah dan menempatkannya di atas filsafat.
E.
Tuhan, Ketakterhinggaan,
Ruh dan Akal
Al-Kindi menyifati tuhan dengan
istilah-istilah baru, yaitu tuhan adalah yang benar, ia tinggi dan dapat
disifati hanya dengan sebutan-sebutan negatif (ia bukan materi, tak berbentuk,
tak berjumlah, tak berkualitas, tak berhbungan), ia juga tak dapat disifati
dengan ciri-ciri yang ada (ia tak berjenis, tak berbagi dan tak berkejadian, ia
abadi).
Benda-benda fisik terdiri atas
materi dan bentuk dan bergerak didalam ruang dan waktu. Waktu bukanlah gerak,
melainkan bilangan pengukur gerak. Segala hal-hal yang berkaitan erat dengan
fisik, ruang, dan waktu adalah terbatas. Karena setiap benda yang terdiri atas
materi dan bentuk yang terbatas ruang dan bergerak didalam waktu itu terbatas,
maka tidak kekal. Hanya Allah yang kekal.
Ruh merupakan suatu wujud sederhana
dan zatnya terpancar dari sang pencipta. Tiga bagian ruh ialah nalar,
keberangan dan hasrat. Menurut al-Kindi, akal yaitu :
1.
Yang
selalu bertindak.
2.
Yang
secara potensial berada didalam ruh.
3.
Yang
telah berubah di dalam ruh dari daya menjadi aktual.
4.
Yang
kita sebut akal yang kedua.
Dan
menurut al-Kindi, yang bersifat alam semesta adalah apabila akal bersatu dengan
ruh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar