Selasa, 13 Mei 2014

Tokoh Filosof Muslim: Ibnu Sina (Materi Kedelapan)


A.      Masa Hidup
Ibnu Sina lahir pada 370 H/980 M dan wafat pada 428 H/1037 M. Sebagai filosof muslim ia tidak hanya unik, namun ia juga mendapat penghargaan hingga masa modern. Ia merupakan satu-satunya filosof besar Islam yang berhasil membangun sistem filsafat yang lengkap dan terperinci. Ibnu Sina adalah filosof Islam murni pertama. Ia tidak belajar dari guru, tetapi dari buku-buku. Maka dari itu ia dikatakan sebagai filosof Islam murni. Ia terkenal dengan bukunya “Asy-Syifa”.

B.       Doktrin Tentang Wujud
Doktrin Ibnu Sina tentang wujud hampir sama dengan tokoh-tokoh filosof muslim yang sebelumnya. Menurutnya, dari Tuhan lah kemajuan yang mesti, mengalir intelegensi pertama, sendirian karena hanya dari yang tunggal, yang mutlak, maka sesuatu dapat mewujud. Tuhan adalah satu keniscayaan, sedangkan adanya sesuatu yang lain hanya mungkin dan ditirunkan karena adanya Tuhan. Jika tidak ada Tuhan, maka yang lainnya pun tidak akan ada.
Menurut Ibnu Sina, jiwa dan raga memiliki hubungan yang erat. Karena unsur kesadaran itu ada sejak seseorang dapat mengukuhkan keberadaanya sendiri. Hal itu betapapun ada hanya sebagai cara untuk menempatkan diri, ia adalah kenyataan yang mungkin dan bukan suatu kemestian yang logis. Ia mengatakan “Bila diri saya identik dengan apa saja dari anggota tubuh saya”. Maksudnya adalah bila ia sadar akan keberadaan diri sendiri, maka ia akan sadar pula dengan keberadaan anggota-anggota tubuhnya. Dan menurut pendapat Ibnu Sina, keabadian jiwa itu didasarkan atas pandangan bahwa jiwa merupakan suatu substansi dan bukan suatu bentuk tubuh, yang kepada bentuk itu jiwa dikaitkan erat oleh suatu hubungan mistik tertentu keduanya. Ada empat tingkatan pengaruh pikiran menurut Ibnu Sina, yaitu keinginan, kata hati, emosi, dan kemauan.
Wahyu yaitu yang mendorong manusia untuk beramal dan menjadi orang baik. Tidak ada agama yang berdasarkan kepada akal murni, jadi memerlukan wahyu juga. Namun pada kenyataannya, wahyu hanya memberikan kebenaran yang sebenarnya itu terselubung dalam simbol-simbol. Esensi Tuhan menurut Ibnu Sina identik dengan keberadaan-Nya yang mesti itu. Karena tuhan tidak beresensi, maka mutlak tidak dapat didefinisikan. Dunia menurutnya itu abadi, namun karena tidak berdiri dengan sendirinya maka secara keseluruhan bergantung dan membutuhkan Tuhan secara abadi.

C.      Pengaruh di Timur dan Barat
Di Timur Ibnu Sina masih dikenal sebagai tokoh filosof Islam terbesar di madrasah-madrasah yang dikelola secara tradisional. Pada abad ke 6 H/12 M karya-karya Ibnu Sina diterjemahkan ke dalam bahasa latin di Spanyol, tepatnya di Andalusia.

D.      Teori Pengetahuan
Doktrin Ibnu Sina dibagi menjadi dua, yaitu persepsi internal (sensus communis, indera imajinatif, wahm, dan niat) dan persepsi eksternal (mata, mulut, hidung, telinga, dan kulit). Respon syaraf dalam framming Ibnu Sina menjelaskan tentang respon instingtif dan emosional manusia kita terhadap lingkungan. Menurutnya, respon syaraf terjadi dalam beberapa taraf. Pengertian instingtif adalah hal yang terjadi tanpa pengalaman sebelumnya, hadir secara alamiah. Dan pengertian empiris semu adalah penggabungan gagasan atau imaji yang ada dalam ingatan.

E.       Doktrin Tentang Akal
Menurut Ibnu Sina, akal terbagi menjadi akal potensial dan akal aktif di luar diri manusia. Akal potensial itu bersifat pribadi bagi setiap individu dan dapat dibangkitkan pada waktu tertentu. Unsurnya tidak dapat dibagi-bagi, tidak bersifat materi, dan dirusak. Sedangkan akal aktif berasal dari pengalaman inderawi secara langsung.

F.       Ajaran Tentang Kenabian
    Ibnu Sina berpendapat bahwa Al-Quran pada umumnya merupakan kebenaran simbolis, bukan kebenaran harfiah. Hukum ada yang sebagian bersifat simbolis dan sebagian yang bersifat pedagogik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar