A.
Masa Hidup
Ibnu Sina lahir pada 370 H/980 M dan
wafat pada 428 H/1037 M. Sebagai filosof muslim ia tidak hanya unik, namun ia
juga mendapat penghargaan hingga masa modern. Ia merupakan satu-satunya filosof
besar Islam yang berhasil membangun sistem filsafat yang lengkap dan
terperinci. Ibnu Sina adalah filosof Islam murni pertama. Ia tidak belajar dari
guru, tetapi dari buku-buku. Maka dari itu ia dikatakan sebagai filosof Islam
murni. Ia terkenal dengan bukunya “Asy-Syifa”.
B.
Doktrin Tentang Wujud
Doktrin Ibnu Sina tentang wujud
hampir sama dengan tokoh-tokoh filosof muslim yang sebelumnya. Menurutnya, dari
Tuhan lah kemajuan yang mesti, mengalir intelegensi pertama, sendirian karena
hanya dari yang tunggal, yang mutlak, maka sesuatu dapat mewujud. Tuhan adalah
satu keniscayaan, sedangkan adanya sesuatu yang lain hanya mungkin dan
ditirunkan karena adanya Tuhan. Jika tidak ada Tuhan, maka yang lainnya pun
tidak akan ada.
Menurut Ibnu Sina, jiwa dan raga
memiliki hubungan yang erat. Karena unsur kesadaran itu ada sejak seseorang
dapat mengukuhkan keberadaanya sendiri. Hal itu betapapun ada hanya sebagai
cara untuk menempatkan diri, ia adalah kenyataan yang mungkin dan bukan suatu
kemestian yang logis. Ia mengatakan “Bila diri saya identik dengan apa saja dari anggota
tubuh saya”. Maksudnya adalah bila ia sadar
akan keberadaan diri sendiri, maka ia akan sadar pula dengan keberadaan
anggota-anggota tubuhnya. Dan menurut pendapat Ibnu Sina, keabadian jiwa itu
didasarkan atas pandangan bahwa jiwa merupakan suatu substansi dan bukan suatu
bentuk tubuh, yang kepada bentuk itu jiwa dikaitkan erat oleh suatu hubungan
mistik tertentu keduanya. Ada empat tingkatan pengaruh pikiran menurut Ibnu
Sina, yaitu keinginan, kata hati, emosi, dan kemauan.
Wahyu yaitu yang mendorong manusia untuk
beramal dan menjadi orang baik. Tidak ada agama yang berdasarkan kepada akal
murni, jadi memerlukan wahyu juga. Namun pada kenyataannya, wahyu hanya
memberikan kebenaran yang sebenarnya itu terselubung dalam simbol-simbol.
Esensi Tuhan menurut Ibnu Sina identik dengan keberadaan-Nya yang mesti itu.
Karena tuhan tidak beresensi, maka mutlak tidak dapat didefinisikan. Dunia
menurutnya itu abadi, namun karena tidak berdiri dengan sendirinya maka secara
keseluruhan bergantung dan membutuhkan Tuhan secara abadi.
C.
Pengaruh di Timur dan Barat
Di Timur Ibnu Sina masih dikenal
sebagai tokoh filosof Islam terbesar di madrasah-madrasah yang dikelola secara
tradisional. Pada abad ke 6 H/12 M karya-karya Ibnu Sina diterjemahkan ke dalam
bahasa latin di Spanyol, tepatnya di Andalusia.
D.
Teori Pengetahuan
Doktrin Ibnu Sina dibagi menjadi
dua, yaitu persepsi internal (sensus communis, indera imajinatif, wahm, dan
niat) dan persepsi eksternal (mata, mulut, hidung, telinga, dan kulit). Respon
syaraf dalam framming Ibnu Sina menjelaskan tentang respon instingtif dan
emosional manusia kita terhadap lingkungan. Menurutnya, respon syaraf terjadi
dalam beberapa taraf. Pengertian instingtif adalah hal yang terjadi tanpa
pengalaman sebelumnya, hadir secara alamiah. Dan pengertian empiris semu adalah
penggabungan gagasan atau imaji yang ada dalam ingatan.
E.
Doktrin Tentang Akal
Menurut Ibnu Sina, akal terbagi
menjadi akal potensial dan akal aktif di luar diri manusia. Akal potensial itu bersifat
pribadi bagi setiap individu dan dapat dibangkitkan pada waktu tertentu.
Unsurnya tidak dapat dibagi-bagi, tidak bersifat materi, dan dirusak. Sedangkan
akal aktif berasal dari pengalaman inderawi secara langsung.
F.
Ajaran Tentang Kenabian
Ibnu
Sina berpendapat bahwa Al-Quran pada umumnya merupakan kebenaran simbolis,
bukan kebenaran harfiah. Hukum ada yang sebagian bersifat simbolis dan sebagian
yang bersifat pedagogik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar