Selasa, 13 Mei 2014

Tokoh Filosof Muslim: Miskawaih (Materi Ketujuh)

A.      Masa Hidupnya
Ahmad ibn Muhammad ibn Ya’qub, yang nama keluarganya adalah Miskawaih, disebut pula abu Ali al-Khazin. Namun, belum dapat dipastikan apakah Miskawaih itu adalah dia sendiri atau dia itu putra (ibn) Miskawaih. Yaqut berkata bahwa ia mula-mula beragama majusi, kemudian memeluk Islam. Ia meninggal pada 9 Safar 421/16 Februari 1030, tanggal kelahirannya tidak jelas, namum diperkirakan pada 320 H/932 M. Miskawaih belajar sejarah terutama Tarikh al-Thabari kepada Abu Bakr Ahmad ibn Kamil al-Qadhi pada 350 H/ 960 M. Ibn al-Khammar adalah gurunya dalam ilmu-ilmu filsafat dan ia mengkaji alkimia bersama abu al-Thayyib al-Razi seorang ahli alkimia. Ia tinggal selama tujuh tahun bersama abu-Fadhl ibn al-‘Amid pada 360 H/970 M sebagai pustakawan.

B.       Karya-karyanya
Tidak disebutkan secara pasti berapa banyak karya-karya dari Miskawaih. Sampai saat ini pun masih simpang siur, beberapa tokoh menyebutkan karya-karya Miskawaih sebagai berikut :
a)    Yaqut memberikan 13 buah karya Miskawaih, yaitu:
1.    Al-Fauz al-Akbar.
2.    Al-Fauz al-Asghar.
3.    Tajarib al-Umam (tentang sejarah banjir besar yang ditulis pada tahun 369 H/979 M).
4.    Uns al-Farid (kumpulan anekdot, syair, peribahasa, dan kata mutiara).
5.    Tartib Al-Sa’adah (tentang akhlak dan politik).
6.    Al-Musthafa (syair-syair pilihan).
7.    Jawidan Khirad (kumpulan ungkapan bijak).
8.    Al-Jami’.
9.    Al-Siyar (tentang aturan hidup).
b)   Al-Qifti hanya menyebutkan nomor 1 sampai 4 tersebut dan menambahkan 4 buah lagi, yaitu:
10.  Tentang Pengobatan Sederhana (mengenai kedokteran).
11.  Tentang Komposisi Bajat (mengenai seni memasak).
12.  Kitab al-Asyribah (mengenai minuman).
13.  Tahdzib al-Akhlaq (mengenai akhlak).
c)    Ada 5 buah karya yang tidak disebutkan oleh Yaqut dan Al-Qifti, yaitu:
14.  Risalah fi al-Ladzdzat wal-Alam fi Jauhar al-Nafs (Naskah di Istanbul, Raghib Majmu’ah No. 1463, lembar 57a-59a).
15.  Ajwibah wa As’ilah fi al-Nafs wal-Aql (dalam Majmu’ah tersebut di atas, dalam Raghib, di Istanbul).
16.  Al-Jawab fi Al-Masa’il Al-Tsalats (Naskah di Tehheran, Fihrist Maktabat al-Majlis, II, No. 634(31)).
17.  Risalah fi Jawab fi Su’al Ali bin Muhammad Abu Hayyan al-Shufi fi Haqiqat al-Aql (perpustakaan Mashad di Iran, I, No. 43(137)).
18.  Thaharat al-Nafs (naskah di Koprulu, Istanbul, No. 767).

C.      Kepribadiannya
Pada dasarnya Miskawaih merupakan seorang ahli sejarah dan moralis, namun ia juga seorang penyair. Tauhidi mencela Miskawaih karena kekikiran dan kemunafikannya bahwa ia tertarik kepada alkimia bukan semata-mata demi ilmu, akan tetapi demi emas dan harta. Ia pun sangat mengabdi kepada guru-gurunya.

D.      Filsafatnya
Miskawaih menbagi filsafatnya menjadi 4 bagian, yaitu:
1.    Filsafat Pertama
Miskawaih berusaha membuktikan bahwa ciptaan berasal dari ketidakadaan. Ia memberikan dua alasan, pertama bentuk-bentuk saling menggantikan tetapi dasarnya tetap konstan. Pada dasarnya dua bentuk tidak dapat bersatu sebab mereka itu berbeda. Kedua, bentuk pertama tidak dapat ke lain tempat, karena gerak di tempat hanya berlaku bagi tubuh. Maka kemungkinannya bentuk pertama menjadi tiada. Dan jika terbukti bentuk pertama tiada maka bentuk kedua mewujud, demikian seterusnya. Karena kemaujudan berasal dari ketiadaan. Miskawaih juga berpendapat tentang teori evolusi yang terdiri dari empat tahapan yaitu evolusi mineral, tetumbuhan, binatang dan manusia. Dan pada akhir teori ini adalah Nabi yang menyempurnakan sirklus kemaujudan dengan mereguk ruh surgawi pada dirinya. Ia mengatakan bahwa filsafat merupakan penerapan mati berdasarkan kemauaan. Kemauaan disini berarti “hasrat”. Menurutnya, mati berdasarkan kemauaan itu bukan berarti penolakan terhadapa dunia. Hal tersebut merupakan sikap tidak tau tentang dunia dan mengabaikan kenyataan bahwa manusia secara fitrahnya beradab dan tidak bisa hidup tanpa yang lain.
2.    Filsafat Moral
Dalam filsafat moral, Miskawaih membaginya lagi menjadi 5 bagian, yaitu:
a.    Ruh
Miskawaih mempersamakan pembawaan-pembawaan ruh dengan kebajikan-kebajikan. Ruh mempunyai tiga pembawaan, yaitu rasional, keberanian, dan hasrat. Dan tiga kebajikan, yaitu bijaksana, berani, dan sederhana yang di antaranya saling berkaitan.  Dengan keberkaitan tersebut, kita dapat memperoleh yang keempat, yaitu keadilan.
b.    Fitrah Manusia dan Asal-Usulnya
Miskawaih mengutip pendapat orang-orang Yunani terdahulu bahwa fitrah itu tidak pernah berubah, tetapi ia menolak pendapat itu dan mengambil pendapat Stoa yang menyatakan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan baik, tetapi kemudian menjadi jahat karena kecenderungan mereka kepada nafsu jahat dan memelihara persekutuan jahat itu. Akhirnya, Miskawaih menyatakan pendapat Aristoteles dalam Nicomachean Ethics dan pendapatnya sendiri bahwa “adanya manusia bergantung kepada kehendak Tuhan, tetapi perbaikannya diserahkan kepada manusia sendiri dan bergantung pada kemauan sendiri”.
c.    Etika
Miskawaih mengatakan bahwa kebaikan terletak pada segala hal yang menjadi tujuan. Selanjutnya Miskawaih mengatakan bahwa apa yang berguna bagi mencapai tujuan ini adalah baik, seperti sarana-sarana dan tujuan itu sendiri dapat disebut baik. Tetapi kebahagiaan atau kebaikan merupakan suatu kebaikan yang relatif – bagi pribadi.
d.   Keadilan
Miskawaih berpendapat bahwa kebajikan merupakan suatu bayangan dari keesaan Tuhan, yaitu keseimbangan sejati. Pengetahuan tentang cara atau batas setiap persoalan merupakan prasyarat dari keadilan, tetapi berbeda dengan Aristoteles, ia berpendapat bahwa keadilan merupakan fungsi kehendak ilahiah bukan sekedar pemikiran rasional dan sikap kehatihatian.
e.    Persahabatan dan Cinta
Miskawaih menbagi cinta menjadi dua macam, yaitu cinta manusia kepada Tuhan dan cinta murid kepada guru (seperti cinta anak kepada orang tuanya). Cinta macam pertama sangat sulit dicapai oleh makluk yang fana dan cinta ini hanya sebagian kecil. Sedangkan untuk cinta macam kedua ini lebih mulia dan lebih pemurah. Persahabatan merupakan hal paling suci dan bermanfaat bagi manusia. Orang yang baik adalah sahabat bagi dirinya sendiri dan yang lain juga merupakan teman baginya, ia tidak mempunyai musuh kecuali orang yang jahat. Ia memandang rasa cinta sebagai kapasitas fitrah untuk bersekutu dengan manusia secara umum, tetapi membatasi persahabatan pada beberapa individu.
3.    Pengobatan Ruh
Dalam bukunya, ia mengatakan bahwa penguasaan nafsu merupakan dasar hakiki kesehatan ruhani. Kemudian ia mengutip al-Kindi yang mengatakan bahwa orang yang mencari kebajikan mesti menyadari bahwa gambaran-gambaran kenalan-kenalannya merupakan cermin kejahatan-kejahatan yang timbul dari kepedihan dan hawa nafsu. Miskawaih membahas penyembuhan penyakit jiwa. Ia menyebutkan penyakit-penyakit yang paling penting (marah, bangga diri, suka bertengkar, khianat, penakut, sombong, takut, dan susah) kemudian dikaitkan dengan cara-cara penyembuhannya. Ia juga menulis beberapa halaman dari uraian Al-Kindi tentang Menolak Kesedihan.
4.    Filsafat Sejarah
Miskawaih merupakan seorang ahli sejarah dan moralis, mengenai sejarah pandangannya bersifat filosofis, ilmiah, dan kritis. Menurut Miskawaih sejarah merupakan suatu pencerminan struktur politik ekonomi masyarakat pada masa-masa tertentu. Sejarah merupakan rekaman naik turunnya peradaban, bangsa-bangsa, dan negara-negara. Sejarah merupakan proses kreatif-dinamis harapan-harapan serta aspirasi-aspirasi manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar