A.
Masa Hidupnya
Ahmad ibn Muhammad ibn Ya’qub, yang
nama keluarganya adalah Miskawaih, disebut pula abu Ali al-Khazin. Namun, belum
dapat dipastikan apakah Miskawaih itu adalah dia sendiri atau dia itu putra
(ibn) Miskawaih. Yaqut berkata bahwa ia mula-mula beragama majusi, kemudian
memeluk Islam. Ia meninggal pada 9 Safar 421/16 Februari 1030, tanggal
kelahirannya tidak jelas, namum diperkirakan pada 320 H/932 M. Miskawaih
belajar sejarah terutama Tarikh al-Thabari kepada Abu Bakr Ahmad ibn
Kamil al-Qadhi pada 350 H/ 960 M. Ibn al-Khammar adalah gurunya dalam ilmu-ilmu
filsafat dan ia mengkaji alkimia bersama abu al-Thayyib al-Razi seorang ahli
alkimia. Ia tinggal selama tujuh tahun bersama abu-Fadhl ibn al-‘Amid pada 360
H/970 M sebagai pustakawan.
B.
Karya-karyanya
Tidak disebutkan secara pasti berapa
banyak karya-karya dari Miskawaih. Sampai saat ini pun masih simpang siur, beberapa
tokoh menyebutkan karya-karya Miskawaih sebagai berikut :
a)
Yaqut memberikan 13 buah karya Miskawaih,
yaitu:
1.
Al-Fauz al-Akbar.
2.
Al-Fauz al-Asghar.
3.
Tajarib al-Umam (tentang sejarah banjir besar yang ditulis pada tahun 369 H/979 M).
4.
Uns al-Farid (kumpulan anekdot, syair, peribahasa, dan
kata mutiara).
5.
Tartib Al-Sa’adah (tentang akhlak dan politik).
6.
Al-Musthafa (syair-syair pilihan).
7.
Jawidan Khirad (kumpulan ungkapan bijak).
8.
Al-Jami’.
9.
Al-Siyar (tentang aturan hidup).
b)
Al-Qifti
hanya menyebutkan nomor 1 sampai 4 tersebut
dan
menambahkan 4 buah lagi, yaitu:
10.
Tentang Pengobatan Sederhana (mengenai kedokteran).
11.
Tentang Komposisi Bajat (mengenai seni memasak).
12.
Kitab al-Asyribah (mengenai minuman).
13.
Tahdzib al-Akhlaq (mengenai akhlak).
c)
Ada 5 buah karya yang tidak disebutkan oleh
Yaqut dan Al-Qifti, yaitu:
14.
Risalah fi al-Ladzdzat wal-Alam fi Jauhar al-Nafs
(Naskah di Istanbul, Raghib Majmu’ah No. 1463, lembar 57a-59a).
15.
Ajwibah wa As’ilah fi al-Nafs wal-Aql (dalam
Majmu’ah tersebut di atas, dalam Raghib, di Istanbul).
16.
Al-Jawab fi Al-Masa’il Al-Tsalats (Naskah di Tehheran, Fihrist Maktabat al-Majlis, II, No. 634(31)).
17.
Risalah
fi Jawab fi Su’al Ali bin Muhammad Abu Hayyan al-Shufi fi Haqiqat al-Aql (perpustakaan Mashad di Iran, I, No. 43(137)).
18.
Thaharat al-Nafs (naskah di
Koprulu, Istanbul, No. 767).
C.
Kepribadiannya
Pada dasarnya Miskawaih merupakan
seorang ahli sejarah dan moralis, namun ia juga seorang penyair. Tauhidi
mencela Miskawaih karena kekikiran dan kemunafikannya bahwa ia tertarik kepada
alkimia bukan semata-mata demi ilmu, akan tetapi demi emas dan harta. Ia pun
sangat mengabdi kepada guru-gurunya.
D.
Filsafatnya
Miskawaih
menbagi filsafatnya menjadi 4 bagian, yaitu:
1.
Filsafat
Pertama
Miskawaih berusaha membuktikan bahwa
ciptaan berasal dari ketidakadaan. Ia memberikan dua alasan, pertama bentuk-bentuk
saling menggantikan tetapi dasarnya tetap konstan. Pada dasarnya dua bentuk
tidak dapat bersatu sebab mereka itu berbeda. Kedua, bentuk pertama
tidak dapat ke lain tempat, karena gerak di tempat hanya berlaku bagi tubuh.
Maka kemungkinannya bentuk pertama menjadi tiada. Dan jika terbukti bentuk
pertama tiada maka bentuk kedua mewujud, demikian seterusnya. Karena kemaujudan
berasal dari ketiadaan. Miskawaih juga berpendapat tentang teori evolusi yang
terdiri dari empat tahapan yaitu evolusi
mineral, tetumbuhan, binatang dan manusia. Dan pada akhir teori ini adalah Nabi yang menyempurnakan
sirklus kemaujudan dengan mereguk ruh surgawi pada dirinya.
Ia mengatakan bahwa filsafat merupakan penerapan mati berdasarkan kemauaan.
Kemauaan disini berarti “hasrat”. Menurutnya, mati berdasarkan kemauaan itu
bukan berarti penolakan terhadapa dunia. Hal tersebut merupakan sikap tidak tau
tentang dunia dan mengabaikan kenyataan bahwa manusia secara fitrahnya beradab
dan tidak bisa hidup tanpa yang lain.
2.
Filsafat
Moral
Dalam filsafat
moral, Miskawaih membaginya lagi menjadi 5 bagian, yaitu:
a.
Ruh
Miskawaih
mempersamakan pembawaan-pembawaan ruh dengan kebajikan-kebajikan. Ruh mempunyai
tiga pembawaan, yaitu rasional, keberanian, dan hasrat. Dan tiga kebajikan, yaitu
bijaksana, berani, dan sederhana yang di antaranya saling berkaitan. Dengan keberkaitan tersebut, kita dapat
memperoleh yang keempat, yaitu keadilan.
b.
Fitrah
Manusia dan Asal-Usulnya
Miskawaih
mengutip pendapat orang-orang Yunani terdahulu bahwa fitrah itu tidak pernah
berubah, tetapi ia menolak pendapat itu dan mengambil pendapat Stoa yang
menyatakan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan baik, tetapi kemudian menjadi
jahat karena kecenderungan mereka kepada nafsu jahat dan memelihara persekutuan
jahat itu. Akhirnya, Miskawaih menyatakan pendapat Aristoteles dalam Nicomachean
Ethics dan pendapatnya sendiri bahwa “adanya manusia bergantung kepada
kehendak Tuhan, tetapi perbaikannya diserahkan kepada manusia sendiri dan
bergantung pada kemauan sendiri”.
c.
Etika
Miskawaih
mengatakan bahwa kebaikan terletak pada segala hal yang menjadi tujuan.
Selanjutnya Miskawaih mengatakan bahwa apa yang berguna bagi mencapai tujuan
ini adalah baik, seperti sarana-sarana dan tujuan itu sendiri dapat disebut
baik. Tetapi kebahagiaan atau kebaikan merupakan suatu kebaikan yang relatif –
bagi pribadi.
d.
Keadilan
Miskawaih
berpendapat bahwa kebajikan merupakan suatu bayangan dari keesaan Tuhan, yaitu keseimbangan
sejati. Pengetahuan tentang cara atau batas setiap persoalan merupakan
prasyarat dari keadilan, tetapi berbeda dengan Aristoteles, ia berpendapat
bahwa keadilan merupakan fungsi kehendak ilahiah bukan sekedar pemikiran
rasional dan sikap kehatihatian.
e.
Persahabatan
dan Cinta
Miskawaih
menbagi cinta menjadi dua macam, yaitu cinta manusia kepada Tuhan dan cinta
murid kepada guru (seperti cinta anak kepada orang tuanya). Cinta macam pertama
sangat sulit dicapai oleh makluk yang fana dan cinta ini hanya sebagian kecil.
Sedangkan untuk cinta macam kedua ini lebih mulia dan lebih pemurah.
Persahabatan merupakan hal paling suci dan bermanfaat bagi manusia. Orang yang
baik adalah sahabat bagi dirinya sendiri dan yang lain juga merupakan teman
baginya, ia tidak mempunyai musuh kecuali orang yang jahat. Ia memandang rasa
cinta sebagai kapasitas fitrah untuk bersekutu dengan manusia secara umum,
tetapi membatasi persahabatan pada beberapa individu.
3.
Pengobatan
Ruh
Dalam bukunya, ia mengatakan bahwa penguasaan nafsu
merupakan dasar hakiki kesehatan ruhani. Kemudian ia mengutip al-Kindi yang
mengatakan bahwa orang yang mencari kebajikan mesti menyadari bahwa
gambaran-gambaran kenalan-kenalannya merupakan cermin kejahatan-kejahatan yang
timbul dari kepedihan dan hawa nafsu. Miskawaih membahas penyembuhan penyakit
jiwa. Ia menyebutkan penyakit-penyakit yang paling penting (marah, bangga diri,
suka bertengkar, khianat, penakut, sombong, takut, dan susah) kemudian
dikaitkan dengan cara-cara penyembuhannya. Ia juga menulis beberapa halaman
dari uraian Al-Kindi tentang Menolak Kesedihan.
4.
Filsafat
Sejarah
Miskawaih merupakan seorang ahli
sejarah dan moralis, mengenai sejarah pandangannya bersifat filosofis, ilmiah, dan
kritis. Menurut Miskawaih sejarah merupakan suatu pencerminan struktur politik
ekonomi masyarakat pada masa-masa tertentu. Sejarah merupakan rekaman naik
turunnya peradaban, bangsa-bangsa, dan negara-negara. Sejarah merupakan proses
kreatif-dinamis harapan-harapan serta aspirasi-aspirasi manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar