A.
Sejarah
Radio Elshinta
Radio
Elshinta didirikan pada tahun 1968 dan merupakan radio amatir pertama yang
masuk ke profesional. Radio ini dari tahun 1968-1980an sudah menjangkau dari
Sabang sampai Merauke. Pada awal hingga pertengahan tahun 80-an radio Elshinta
mencapai puncak kejayaannya dengan lagu-lagunya. Kemudian radio Elshinta
berganti format menjadi lagu yang agak dewasa dan pada tahun 1990 berpindah ke
FM dengan memutar lagu-lagu jazz. Pada kerusuhan tahun 1998 banyak masyarakat
yang meminta informasi. Lalu pada tahun 2000 radio Elshinta berubah menjadi
radio berita tanpa ada lagu, hanya News
and Talk saja selama 24 jam.
B.
Analisa
: Perspektif Teori Agenda Setting pada Radio Elshinta
a. Teori
Agenda Setting
Istilah
Agenda Setting pertama kali diciptakan oleh Maxwell McCombs dan Donald Shaw
(1972, 1993) untuk menggambarkan sebuah fenomena yang telah lama diketahui dan
diteliti dalam konteks kampanye pemilu. Ide inti dari teori ini adalah media
berita mengindikasikan kepada publik apa yang menjadi isu hari ini dan
tercermin dalam apa yang dipersepsikan publik sebagai isu utama. Lazarsfeld (1944)
merujuk hal ini sebagai kekuatan untuk ‘membentuk isu’. Agenda setting terbagi
menjadi tiga. Pertama, agenda media
(Visibility, Audience Salience, dan Valence). Kedua, agenda khalayak (Familiarity, Personal Salience, dan
Favorability). Ketiga, agenda
kebijakan (Support, Likelihood of Action, dan Freedom of Action). Menurut Littlejohn
(1996), proses penetapan agenda dapat dilihat dalam tiba bagian, yaitu :
1) Prioriti
isu diperbincngkan oleh pihak media atau penentuan media.
2) Agenda
media mempengaruhi pemikiran masyarakat atau agenda umum.
3) Agenda
umum mempengaruhi pemikiran pembuat dasar atau policy agenda.
b. Analisa
Radio Elshinta
Radio
Elshinta pada Pemilu 2014 menyajikan sebuah mata acara yang berjudul “Pemilu
2014” sebagai wadah informasi tentang pemilu yang sedang berlangsung. Radio tersebut
menjadikan berita mengenai pemilu sebagai berita yang sangat penting dengan
membuat sebuah mata acara khusus untuk membahasnya. Pada konsep ini Radio
Elshinta memiliki fungsi sebagai agenda setter seperti yang dikenal dalam Teori
Agenda Setting. Tidak hanya acara yang berjudul “Pemilu 2014” saja, Radio
Elshinta juga memiliki progra pemilu lainnya yang berjudul “Pemilu dan Anda”. Dari
kedua program acara tersebut tentu terlihat bahwa Radio Elshinta mencoba untuk
berbicara kepada khalayak bahwa isu mengenai pemilu adalah isu penting.
Ada
kalanya pihak media mempunyai hubungan yang erat dengan masyarakat elit yang
kemudian golongan ini dapat mempengaruhi agenda media dan agenda umum. Oleh karena
itu, media juga dapat digunakan oleh pihak tertentu untuk membawa ideologi
mereka menjadi agenda umum. Misalnya seperti publisitas atas suatu partai
politik. Publisitas itu sendiri lebih menekankan kepada proses komunikasi satu
arah. Publisitas berasal dari bahasa Inggris “Publicity” yang berarti informasi yang berasal dari sumber luar
yang digunakan oleh media massa karena informasi itu memiliki nilai berita.
Masalah
publisitas pada Radio Elshinta diakui sebagai bagian dari pengenalan partai
agar masyarakat mengenal partai-partai yang ada dan juga agar dapat mengenal
calon yang diajukan oleh partai tersebut. Diakui oleh Radio Elshinta bahwasanya
mereka mewawancarai semua partai untuk mengenalkan partai mereka hingga pemilu
presiden. Mereka juga menganggap bahwa isu ini adalah penting meski publisitas
menjadi acuan utamanya.
Ada
empat jenis hubungan kausa di antara media dan pihak luar, yaitu :
1. Sumber
yang berkuasa dan media yang berkuasa menghasilkan hubungan simbiotik yang
memberikan pegaruh kuat terhadap agenda umum.
2. Sumber
yang berkuasa tetapi media tiada kuasa, keadaan ini membuat pihak yang berkuasa
menggunakan media untuk membawa agenda mereka.
3. Sumber
rendah kuasa tetapi media yang berkuasa, media yang menentukan agenda dan pihak
luar terpaksa akur dengan media.
4. Sumber
dan media yang kurang berkuasa, keadaan ini membuat agenda umum ditentukan oleh
perkara yang berlaku sebenarnya tanpa ditentukan oleh pihak medi atau sumber.
Radio
Elshinta mengaku bangga akan indenpendecy
media yang mereka miliki. Meski radio tersebut mengenal beberapa pejabat
politik, namun mereka tidak langsung menjadikan media mereka sebagai agenda
media dan agenda umum untuk masyarakat. Moto utama mereka adalah pengakuan
mereka yang profesional. Kredibilitas adalah hal yang mereka junjung agar
agenda sumber tidak berkuasa dan menjadikan media sebagai jalan untuk
menjadikan agenda mereka menjadi agenda umum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar