Minggu, 28 September 2014

Model Poses Komunikasi Massa dan Teori Agenda Setting (Materi Keempat)

A.      Model Proses Komunikasi Massa
a.        Model Transmisi
Pandangan dalam model ini dikaitkan dengan pengiriman atau pemberian informasi kepada pihak lain. Inti dari gagasannya adalah transmisi isyarat (signal) atau pesan dalam waktu tertentu dengan tujuan tercapainya kontrol. Menurut model ini, komunikasi massa adalah proses pengaturan sendiri yang diarahkan oleh kepentingan dan permintaan pemirsa yang hanya dapat diketahui oleh pemilihan dan respons dari pemirsa tersebut atas apa yang ditawarkan oleh media.
Contohnya adalah dalam media cetak khususnya surat kabar memiliki banyak varian berita yang disajikan sesuai dengan keinginan dan kepentingan dari audince dalam mendapatkan informasi.

b.        Model Ekspresi (Ritual)
Model ritual ini dikaitkan dengan beberapa istilah, yaitu kebersamaan, partisipasi, asosiasi, dan persahabatan atau titik pandang yang sama. Inti dari model ini tidak menekankan pada penyebaran informasi dari sudut pandang ruang, melainkan pada masalah pembinaan masyarakat dalam kurun waktu tertentu. Model ini juga tidak menekankan pada upaya penyampaian informasi tetapi pada pencerminan kesamaan pandangan.
Contohnya adalah dalam acara “belajar Indonesia” di mana dalam acara ini menggambarkan keanekaragaman budaya dan cara berkomunikasi setiap daerah di Indonesia berbeda-beda.

c.         Model Perhatian
Model perhatian ini adalah model yang paling sesuai dengan tujuan utama media seperti yang ditentukan oleh media itu sendiri (menarik hati khalayak) dan paling cocok dengan pandangan khalayak umum menyangkut dengan pentingnya pemakaian media (membebaskan diri, melibatkan diri, menghibur, dll).

Model Komunikasi Massa
1.    Model Jarum Hypodermik (Hypodermic Needle Model)
Menurut model ini, media massa memiliki dampak yang kuat, terarah, segera, dan langsung. Media juga ampuh dalam memasukan ide pada benak khalayak. Peristiwa model hypodermik diibaratkan sebagai jarum suntik besar yang memiliki kapasitas sebagai perangsang yang kuat, bahkan secara spontan, otomatis, dan reflektif.

2.    One Step Flow Model
Menurut model ini, saluran media massa berkomunikasi langsung dengan massa tanpa berlalunya suatu pesan kepada orang lain. Namun, pesan itu tidak mencapai semua komunikan dan tidak menimbulkan efek yang sama pada setiap komunikan. Dalam model ini, media tidak memiliki kekuatan yang hebat. Penampilan, penerimaan, dan penahanan dalam ingatan selektif mempengaruhi suatu pesan.
Sumber → Khalayak

3.    Two Step Flow Model
Menurut model ini, kunci utamanya adalah menaruh perhatian kepada peranan media massa dan komunikasi antarpribadi. Melihat massa sebagai perorangan yang berinteraksi dan memekankan proses dari opinion leader ke penduduk yang kurang giat. Model komunikasi ini berlangsung dalam dua tahap, yaitu :
-       Tahap 1 : Dari media massa kepada orang-orang tertentu di antara pemuka pendapat yang bertindak selaku gate keepers. Dari sini pesan-pesan media massa disampaikan kepada anggota-anggota pemuka pendapat yang lain sebagai tahap kedua.
-       Tahap 2 : Sehingga pesan-pesan media akhirnya mencapai seluruh penduduk.
Sumber → Komunikasi → Pesan → Media Massa → Opinion Leader → Komunikan

4.    Multi Step Flow Model
Model ini didasrakan kepada fungsi penyebaran yang berurutan terjadi pada kenyataan situasi komunikasi. Tujuan dari model ini adalah menggunakan banyak saluran untuk memperteguh. Ada asumsi yang mengatakan bahwa model ini merupakan model yang paling cocok karena menggabungkan beberapa hal dalam model komunikasi satu tahap dan dua tahap. Pada model pertama khalayak bersifat pasif, tapi ternyata khlayak aktif mencari informasi yang dia butuhkan dan menyampaikan kepada yang lain. Proses sosial ini menjadi salah satu yang melatarbelakangi lahirnya model komunikasi ini.
Sumber → Media Massa → Komunikan → Komunikan → Komunikan

Karakteristik Isi Media
Berikut ada beberapa karakteristik isi media, yaitu :
1.    Cepat (aktual atau memperhatikan ketepatan waktu).
2.    Nyata (berupa informasi mengenai sebuah fakta).
3.    Penting (menyangkut kepentingan orang banyak).
4.    Menarik (mengundang orang untuk membaca apa yang ditulis).

Media Value
Ada beberapa media value, yaitu :
1.    Consequencies (suatu fakta yang dapat membawa akibat bagi khalayak).
2.    Human Interest (menarik dari sudut kepentingan kemanusiaan).
3.    Prominence (melibatkan tokoh terkemuka yang menjadi figur atau elite opinion).
4.    Proximity (fakta atau informasi memiliki kedekatan dengan tempat tinggal pembaca).
5.    Timelines (memiliki unsur kebaruan yang menyebabkan informasi tersebut aktual).

Karakteristik Industri Media
Ada tiga karakteristik industri media, yaitu :
1.    Customer Requirments (merujuk pada harapan konsumen tentang produk media yang mencakup aspek kualitas, diversitas atau perbedaan, dan ketersediaan).
2.    Competitive Environment (lingkungan pesaing yang di hadapi perusahaan).
3.    Social Expectations (tingkat harapan masyarakat terhadap keberadaan industri media).

Pengaruh dalam Model Hirarki
Pengaruh dalam model ini akan dijabarkan dari yang terkecil ke yang terbesar, sebagai berikut :
1.    Level pengaruh Individu Pekerja Media
Pemberitaan suatu media dan pembentukan konten media tidak terlepas dari faktor individu seorang pencari berita atau jurnalis. Arah pemberitaan dan unsur-unsur yang diberitakan tidak dapat dilepaskan dari seorang jurnalis. Faktor individual dari seorang pekerja media sangat mempengaruhi pemberitaan sebuah media, ini dikarenakan seorang jurnalis sebagai pencari berita dan dapat mengkonstruk pemberitaan sebuah media. 
2.    Level Rutinitas Media
Pada level ini mempelajari tentang efek pada pemberitaan dilihat dari sisi rutinitas media. Rutinitas media adalah kebiasaan sebuah media dalam pengemasan dan sebuah berita. Media rutin terbentuk oleh tiga unsur yang saling berkaitan yaitu sumber berita ( suppliers ), organisasi media ( processor ), dan audiens ( consumers ). Ketiga unsur ini saling berhubungan dan berkaitan dan pada akhirnya membentuk rutinitas media yang membentuk pemberitaan pada sebuah media.
3.    Level Pengaruh Organisasi
Berkaitan dengan level sebelumnya pada Teori Hirarki pengaruh yaitu level individu dan level media rutin, level organisasi lebih berpengaruh dibanding kedua level sebelumnya. Ini dikarenakan kebijakan terbesar dipegang oleh pemilik media melalui editor pada sebuah media. Jadi, penentu kebijakan pada sebuah media dalam menentukan sebuah pemberitaan tetap dipegang oleh pemilik media. Ketika tekanan datang untuk mendorong, pekerja secara individu dan rutinitas mereka harus tunduk pada organisasi yang lebih besar dan tujuannya.
4.    Level Pengaruh Luar Organisasi Media
Level keempat dalam Teori Hirarki pengaruh media adalah level pengaruh dari luar organisasi  media atau yang biasa disebut extra media level. Extra media level sendiri adalah pengaruh-pengaruh pada isi media yang berasal dari luar organisasi media itu sendiri. Pengaruh-pengaruh dari media itu berasal dari sumber berita, pengiklan dan penonton, kontrol dari pemerintah, pangsa pasar, dan teknologi.
5.    Level Pengaruh Ideologi
Level yang terakhir pada teori hirarki pengaruh Pamela J. Shoemaker dan Stephen D. Reese adalah level pengaruh ideologi pada konten media. Pada level ini akan membahas ideologi yang diartikan sebagai kerangka berpikir tertentu yang dipakai oleh individu untuk melihat realitas dan bagaimana mereka menghadapinya. Berbeda dengan level pengaruh media sebelumnya yang tampak konkret, level ideologi ini abstrak. Level ini berhubungan dengan konsepsi atau posisi seseorang dalam menafsirkan realitas dalam sebuah media.

Konsep Massa dalam Komunikasi Massa          
PEMBEDA
KELOMPOK
PUBLIK
KERUMUNAN
MASSA
Tingkat Instruksi
Tinggi dalam
Wilayah terbatas
Sedang, walaupun para anggota tersebar
Tinggi
Rendah
Tujuan atau
Objek Perhatian
Tujuan bersama,
Identitas,
kontak
Pandangan
atau masalah untuk diskusi dan penentuan pilihan
Kejadian yang sedang berlangsung
Objek perhatian yang dikelola
Kontrol/
Organisasi
Tinggi/tetapi informal, internal
Sedang, Formal, dan informal
Kejadian yang sedang berlangsung
Eksternal dan
manipulatif
Kadar Kesadaran
Tinggi
Bervariasi
sedang sampai tinggi
Rendah
Rendah

B.       Teori Agenda Setting
a.        Perspektif Agenda Setting
Teori agenda setting pertama kali diperkenalkan oleh Maxwell McCombs dan Donald L. Show dalam tulisan mereka yang berjudul “The Agenda Setting Function of Mass Media” yang diterbitkan tahun 1972 dalam Public Opinion Quarterly. Mereka berpendapat bahwa jika media memberikan tekanan pada suatu peristiwa, maka media itu akan mempengaruhi khalayak untuk menganggapnya penting. Dengan teknik pemilihan dan penonjolan pada suatu peristiwa, media memberikan petunjuk tentang yang mana persoalan yang lebih penting. Jadi bisa disimpulkan bahwa teori agenda setting adalah apa yang dianggap penting oleh media akan dianggap penting pula oleh masyarakat dan begitu pula sebaliknya.

b.        Agenda
Terdapat tiga agenda dalam agenda setting, yaitu :
1.    Agenda Media
-  Visibility (jumlah dan tingkat menonjolnya berita).
-   Audience Salience (relevansi isi berita dengan kebutuhan khalayak)
-  Valence (menyenangkan atau tidak menyenangkan cara pemberitaan bagi suatu peristiwa).
2.    Agenda Khalayak
-  Familiarity (derajat kesadaran khalayak akan topik tertentu).
-  Personal Salience (relevansi kepentingan dengan ciri pribadi).
-  Favorability (pertimbangan senang atau tidak akan topik berita).
3.    Agenda Kebijakan
-  Support (kegiatan menyenangkan bagi posisi suatu berita tertentu).
-  Likelihood of Action (kemungkinan melaksanakan apa yang diibaratkan).
-  Freedom of Action (nilai kegiatan yang mungkin dilakukan).

c.         Efek Agenda Setting
Efek agenda setiing dibagi menjadi dua, yaitu :
1.    Efek langsung
-  Ada atau tidaknya sebuah isu di khalayak.
-  Mana yang penting.
-  Dirangking oleh responden.
2.    Efek lanjutan
-  Persepsi.

-  Tindakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar